Posted by: faiucy | April 20, 2012

Meningkatkan Kualitas Pendidikan Melalui Penghilangan Budaya Plagiasi


Meningkatkan Kualitas Pendidikan Melalui
 Penghilangan Budaya Plagiasi
Ahmad Salim.SAg. SPd. MPd
 (Alumni PAI UCY, Staff Pengajar PAI STIA Alma Ata dan UCY)

 Regulasi baru Dirjen Dikti tanggal 27 Januari 2012 tentang pembuatan karya tulis yang dimuat jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan S1 adalah satu inovasi yang wajib kita berikan apresiasi. Tetapi budaya men ‘Copet’ (kopi paste edit) kebanyakan mahasiswa kita terhadap karya tulis orang lain terutama melalui mbah google merupakan aktifitas yang sangat menghawatirkan. Pemuatan karya tulis dijurnal tanpa seleksi originalitas karya adalah suatu aktivitas yang tidak fair sementara seleksi ketat karya tulis untuk dimuat di jurnal jelas akan menghambat kelulusan mahasiswa.

Paradox ini akan sangat sulit dipertemukan tanpa berlahan tapi pasti untuk menghilangkan budaya plagiasi. Kasus plagiasi di Indonesia sudah pada taraf mengerikan, tidak hanya dilakukan oleh siswa di level bawah saja tetapi justru banyak dilakukan pada tingkat PT dengan berbagai bentuk karya yang diplagiat.

 Apresiasi tersebut mutlak dilakukan sebagai upaya peningkatan kualitas SDM kita melalui dorongan untuk penciptaaan karya tulis yang nihil dengan bentuk plagiasi. Sebab, kasus plagiasi di Indonesia sudah pada taraf mengkwatirkan, tidak hanya dilakukan oleh siswa di level bawah saja tetapi justru banyak dilakukan pada tingkat PT dengan berbagai bentuk karya yang diplagiat baik itu skripsi bahkan sampai desertasi baik menggunakan bahasa indonesia atau bahasa asing. Contoh kasus adalah apa yang dilakukan oleh mahasiwa S3 pada salah satu PT ternama Negara kita beberapa tahun lalu.

 Definisi Plagiasi

Secara etimologis Plagiasi berasal dari bahasa Inggris Plagiarism yang apabila dirunut sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Plagiarius berarti penculik atau pencuri karya tulis. Kemudian di kamus Longman Dictionary of English Language and Culture plagiarism didefinisikan sebagai pengambilan gagasan dari karya orang lain kemudian menggunakan gagasan tersebut dalam karyanya sendiri tanpa memberi penghargaan terhadap penulis aslinya. Yudi Cahyono memberikan pengertian bahwa plagiarism adalah pengambilan gagasan orang lain dan diakui sebagai gagasanya sendiri. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa ketika kita mengambil ide, kata-kata dan tulisan orang lain dalam tulisan kita banyak ataupun sedikit kemudian kita tidak memberitahukan bahwa itu adalah ide orang lain maka kita bisa disebut dengan plagiator.

 Perbuatan plagiasi sebagaimana dijelaskan di atas tidak hanya merugikan orang yang mempunyai ide utamanya, karena hasil karyanya bisa mungkin lebih baik dari yang diplagiat. Tetapi juga pelanggaran etika dalam proses penciptaan sebuah karya. Karya seorang plagiator pada hakekatnya adalah sebuah karya tipuan karena menyamarkan keaslian gagasan dalam karyanya. Pembaca akan tertipu karena yang dikira tulisan itu adalah hasil karyanya ternyata hanya merupkan jiplakan dari gagasan atau ide orang lain.

 Upaya yang dapat dilakukan

Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari atau membuang budaya plagiasi: Pertama, peraturan tentang plagiasi. Dalam regulasi tersebut harus ada definisi yang jelas tentang filosofi plagiasi serta hukuman bagi yang melakukanya, sehingga  civitas akademika atau semua orang yang berkompeten dengan urusan tulis menulis akan mempunyai persepsi yang sama terhadap plagiasi. Adanya Permen plagiasi yang segera akan diundangkan adalah upaya positif untuk meminimalisir tindakan plagiasi. Dengan peraturan itu diharapkan pelaku (plagiator) akan takut untuk melakukanya karena ada konsekwensi berat terhadap tindakanya, seperti denda, dan pencabutan wewenang atau gelar yang melekat dari seseorang yang diketahui diperoleh melalui tindakan plagiasi. Peraturan ini akan efektif bila setelah disahkan segera disosialisasikan kepada semua civitas akademika serta masyarakat yang kompeten terhadap urusan ini.

 Kedua, dorongan untuk meningkatkan budaya menulis pada semua level pendidikan kita. Upaya ini mutlak dilakukan karena terbukti budaya menulis kita pada hampir semua karya baik akademik maupun non akademik masih sangat lemah dibandingkan dengan Negara lain. Dorongan budaya menulis ini perlu dibarengi dengan penekanan menulis secara benar dan jauh dari budaya plagialis. Ditengarai banyaknya plagialis yang terjadi di Negara kita dilakukan karena mereka tidak mempunyai budaya menulis yang bagus. Sehingga mereka tidak sengaja atau malah tidak tahu kalau mereka telah menjadi plagiator.

Penghilangan budaya plagiasi dengan diiringi peningkatan budaya menulis pada semua level pendidikan akan sangat mempengaruhi kualitas SDM kita yang pada giliranya akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita. Bukankah benar kalau kualitas pendidikan akan sangat tergantung dari kualitas SDM nya? Memang mudah mengatakan bukan?????….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: