Posted by: faiucy | March 28, 2012

KEJATUHAN BULAN


Cerita ini diambil dari buku Fikih untuk Tsanawiyah kelas IX tulisan Hakiki Mahfuzh

Beban ekonomi pak Asap tambah berat saat anaknya yang nomor 5 diterima di salah satu Madrasah Aliyah favorit di kota Kastoba. Sementara kakaknya tahun ini juga diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Apa Ada. Bagi si kakak pak Asap harus menyediakan uang sebesar 80 juta rupiah untuk membayar uang gedung dan uang kuliah selama satu semester. Sementara adiknya juga membutuhkan uang yang relatif banyak untuk kepeluan daftar ulang sebagai siswa baru. “Alamak! dari mana uang akan diperoleh” Kata pak Asap di depan kedua anaknya. Rupanya Pak Asap lupa bahwa 6 bulan yang lalu kedatangan tamu dari salah satu anak perusahaan Komputer multi nasional yang ingin membeli tanah miliknya ntuk pembangunan pabrik perakitan komputer. Dicarinya kartu nama tamu yang pernah datang dan siang itu juga pak Asap menghubungi sang tamu.

Assalamu’alikum, Hallo!” Pak Asap memulai pembicaraan. “Wa’alaikumussalam, ada yang bisa dibantu?” jawab front office di kantor tersebut. “Bisa bicara dengan Pak  Jalaluddin! Manajer di Devisi Pengembangan Usaha” “Silahkan tunggu Pak, saya hubungkan dengan Pak Jalaluddin”.

“Oh. ini Pak Asap ya?” Pak Jalaluddin memulai pembicaraan. “Betul Pak”. Sahut Pak Asap di ujung telepon. “Ada apa Pak Asap? ada yang bisa saya bantu Pak?” Tanya Pak Jalaluddin. “Bagaimana rencana Bapak yang akan beli tanah saya?” “Baik Pak Asap besok sore saya akan ke rumah Pak Asap”.

Pak Jalaluddin memenuhi janjinya, pada kamis sore ia menemui pak Asap di rumahnya. “Assalamu’alaikum Pak Asap, gimana kabar nih?” Pak Jalaluddin menyapa akrab pak Asap. “Wa’alaikumussalam Pak, saya sekeluarga baik-baik saja pak. Bagaimana rencana Bapak Jalaludddin terhadap tanah saya?”. “ Begini Pak, gimana kalau tanah tersebut saya beli Rp 4 juta permeter?” Tawar pak Jalaluddin. “Baiklah Pak, tanah tersebut saya berikan kepada Bapak. Ketepatan saya juga sedang butuh uang untuk sekolah anak-anak saya”. “Baiklah Pak Asap, pembayarnnya hari Senin depan karena harus saya rapatkan dulu dengan perusahaan. Pak Asap boleh memikirkan kembali kesepakatan ini. Bagaimana kalau nanti perusahaan menunda dulu pembelian tanah Pak Asap”. “Tidak apa-apa Pak, asal Pak Jalaluddin meberitahukan kapada kami di sini”. “ Dengan senang hati akan saya beritahukan Pak Asap. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Kami pamit pak”. Pak Jalaluddin mengakhiri pembicaraan.

Pak Asap berharap tanahnya segera laku dan keperluan uang untuk anak-anaknya terpenuhi. Namun Allah berkendah lain, perusahaan menunda pembelian tanah. Untung saja sebelumnya pak Jalaluddin telah menjelaskan dalam khiyar kepada pak Asap, bahwa kesepakatan yang telah dibuat bersama pak  Jalaluddin akan batal apabila perusahaan menunda pembelian tanah.

Di tengah kebingungan bagaimana mendapatkan uang untuk biaya anak-anaknya, ada tamu datang memberitahukan bahwa Asuransi Jiwa pak Asap telah melebih waktu yang tertulis dalam perjanjian pemegang polis asuransi. Ini artinya pak Asap dapat mencairkan tabungan asuransinya. Tanda diduga sebelumnya, ternyata tabungan asuransi pak Asap mencapai Rp 500 juta. Wajah suram dan murung pak Asap kembali berbinar bak kejatuhan rembulan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: