Posted by: faiucy | February 15, 2012

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN


PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN

Oleh : M. Nasrudin

Semua gerakan/aktivitas yang dilakukan oleh kelompok tertentu atau bahkan pemerintah sekalipun selalu diembel-embeli dengan visi pembebasan. Realitas ini terlihat nyata ketika kampanye pileg ataupun presiden beberapa tahun lalu. Semua program yang ditawarkan oleh seorang kandidat selalu bernada pembebasan, pembebasan dari kemelaratan, dari rasa takut, kasih sayang ataupun pembebasan menjalankan kepercayaan yang diyakininya. Gerakan pembebasan tidak hanya memasuki pada wilayah politik, ekonomi, atau agama, tetapi sudah masuk pada semua wilayah yang berkaitan dengan hajat hidup semua warga termasuk pendidikan. Gerakan pembebasan dalam dunia pendidikan sebenarnya telah lama didengungkan oleh tokoh pendidikan kita, sebab mereka menyakini dan sangat mengharapkan bahwa pendidikan adalah suatu instrument yang dapat membentuk budaya masyarakat sekaligus mewariskan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Pendidikanlah yang dapat membentuk watak, tabiat dan kepribadian suatu generasi yang dapat mempengaruhi maju mundurnya sebuah peradaban bangsa.

 Realitas di atas diakui John Vasay (1967) sehingga dia menyatakan bahwa pendidikan adalah dasar dari pertumbuhan ekonomi, perkembangan sain dan teknologi, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan dalam pendapatan serta peningkatan kualitas peradapan manusia. Bahkan lebih lantang lagi Christopher J. Lucas (1976) mengatakan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan luar biasa yaitu dapat menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang paling berharga mengenai penggangan hidup di masa yang akan datang serta membantu anak didik mempersiapkan kebutuhan hidup yang esensial untuk menghadapi perubahan zaman yang akan selalu berubah.

Pengalaman empirik yang telah dilakukan oleh bangsa Jepang barangkali dapat dijadikan  suatu alasan pembenar atas pandangan teoritik yang disampaikan oleh kedua tokoh di atas. Maka setelah Jepang melakukan reformasi besar- besaran pada masa Meiji ( 1868- 1912), Jepang memiliki insfastruktur pendidikan yang bermutu. Hasilnya luar biasa, walaupun Jepang pernah hancur total setelah kalah perang dunia II tetapi kini Jepang menjadi salah satu kekuatan raksasa ekonomi dan teknologi dunia yang mewakili Asia. Dengan kata lain hasil gemilang yang diraih Jepang saat ini sebenarnya sangat dipengaruhi oleh reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikanya. Ini berarti instrument pendidikan yang telah diciptakan oleh tokoh pendahulu Jepang telah dapat membebaskan bangsa Jepang dari kemelaratan, buta teknologi, ketidakberdayaan, serta rasa inferior setelah kalah dalam perang dunia II.

Berbeda dengan Jepang, harapan para tokoh pendidikan kita untuk mencapai hakekat kebebasan kehidupan melalui instrument pendidikan barangkali sampai detik ini belumlah menjadikan mereka tertawa puas. Masih banyak sekali problem terkait dengan pendidikan, baik menyangkut kualitas, relevansi, pemerataan, angka putus sekolah atau tidak melanjutkan kejenjang PT, rendahnya motivasi belajar siswa, serta kebijakan evaluasi yang di dalamnya melahirkan pro kontra terhadap UN. Akibat dari masalah tersebut menjadikan instrument pendidikan kita belum membebaskan bangsa kita dari cengkraman kemelaratan, ketidakadilan, pencurian, kecemasan terhadap masa depan bangsa, serta ketidak percayaan diri sebagai bangsa merdeka. Mungkin hinaan Malaysia baru- baru ini terhadap bangsa kita tidak perlu terjadi apabila instrument pendidikan kita sudah dapat membebaskan warganya dari beberapa masalah yang di sebutkan di atas.

Beberapa masalah pendidikan yang disebutkan di atas dapat diatasi dengan konsep pendidikan yang membebaskan. Pendidikan membebaskan menurut Gary Mcintyre Boyd (1998) dalam artikelnya The cybernetics of Rational And Liberative Education, pendidikan membebaskan pada dasarnya memuat dua hal besar yaitu pertama membebaskan peserta didik dari kungkungan lingkungan belajar dan yang kedua membebaskan peserta didik dari dominasi dan control budaya kolektif. Tujuan pendidikan membebaskan adalah menghasilkan manusia merdeka yang dapat menimbang dan berpikir secara mandiri apa yang akan dilakukanya secara kritis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Implikasi dari manusia yang dapat berpikir secara otonom pada giliranya diharapkan dapat membebaskan masyarakat dari kekejaman sebuah rezim, penindasan, kemelaratan serta dominasi sebuah teknokrasi atau birokrasi dari rezim yang berkuasa. Lebih dari itu menurut Huzni Toyyar (2009) pendidikan pembebasan diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia kritis dan rensponsif pada setiap gejala sosial dan sanggup pula membela orang-orang tertindas secara structural dan cultural.

Banyak prasyarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan manusia mandiri sebagimana  dicitakan oleh para ahli pendidikan pembebasan di atas diantaranya adalah kemerdekaan lembaga sekolah untuk memberikan, memfasilitasi, serta mendayagunakan semua potensi yang dimiliki oleh siswa. Sekolah tidak terbebani hanya pada satu atau beberapa pelajaran yang disyaratkan atau dipaksakan oleh pemerintah saja, tetapi sekolah harus dapat menjembatani siswa untuk menemukan jati diri siswa sendiri tanpa terpengaruh oleh dominasi kolektif kelompok tertentu. Sekolah atau guru harus berani melakukan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan keberagaman kemampuan dan kemauan atau minat siswa. Sekolah harus berani menerima input dari siswa yang mempunyai keragaman potensi baik kognitif, afektif ataupun psikomotoriknya. Artinya semua sekolah harus berani menerima siswa yang bernilai UN rendah sekalipun, karena UN bukanlah satu- satunya alat evaluasi yang dapat mengukur kemampuan siswa.

Sekolah yang berhasil menurut konsep pendidikan pembebasan ini bukakanlah sekolah yang dapat meluluskan siswanya dengan nilai UN baik dari input siswa yang bernilai baik pula. Kalau hanya ini yang dapat dilakukan maka sekolah hanya ibarat pabrik rokok yang dapat menghasilkan rokok berkualitas dari tembakau yang berkualitas. Konsep pendidikan pembebasan menilai bahwa sekolah yang berhasil adalah sekolah yang dapat menghasilkan out put berkualitas dari input yang “tidak berkualitas” sekalipun. Sekolah menurut konsep pendidikan pembebasan tidak bisa diibaratkan seperti pabrik rokok yang hanya bisa menghasilkan rokok yang berkualitas manakala dia mendapatkan tembakau berkualitas. Sekolah adalah upaya memanusiakan manusia, manusia dengan segala potensi yang dimilkinya jauh berbeda dengan barang yang hanya dapat dilihat dari beberapa segi saja. Kegiatan ini didukung oleh teori/konsep pendidikan yang disebut dengan teory discovery learning yang digagas oleh Jerome Bruner (1977). Ia menyatakan bahwa sekolah harus bisa mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historian atau ahli matematika. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti.

 Banyak potensi yang bisa digali setelah siswa masuk pada sistem sekolah yang mungkin belum muncul pada waktu pendaftaran masuk. Penggalian potensi siswa secara optimal ini yang lebih penting yang pada giliranya dapat menghasilkan manusia otonom yang dapat menentukan masa depannya secara mandiri, kritis, peka dan responsive terhadap perubahan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya,   semoga………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: