Posted by: faiucy | February 7, 2012

PASANG SURUT PERADABAN ISLAM


PASANG SURUT PERADABAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
(Telaah Kritis Peradaban Arab)

 Hilman Haroen P

ABSTRAKSI

 Suatu peradaban, termasuk peradaban Arab, merupakan hasil dari berbagai faktor potensi manusia, kesadaran kreatif, vitalitas intelektual dan spiritual, peristiwa-peristiwa kemajuan riil serta bercorak pembebasan. Keberadaan Masyarakat Arab sebelum Abad VIII, ternyata telah mampu menunjukkan kemajuan peradaban itu, yang secara konkrit dapat dirasakan oleh masyarakat dunia. Salah satu elan vitalnya adalah Islam yang saat itu (dan sampai akhir dunia) mampu menjadi gerakan penyadar dan pemberdaya orang Arab dalam berbagai aktivitas kreatifnya. Sehingga mereka dapat bersatu padu diantara suku dan ras yang ada ketika itu, dan pada gilirannya mereka dapat meraih tingkat kepribadian dan peradaban yang agung. Akibat dari kemajuan peradaban bangsa Arab itulah dunia Barat, Eropa mendapatkan jalan bagi munculnya abad renaissance itu. Siapakah bangsa Arab itu? Bagaimana kondisi sosio-kultural bangsa Arab ketika itu ? Bagaimana perkembangan peradaban Arab sebelum abad VIII ? Apa kunci utama keberhasilan ekspansi peradaban Islam ketika itu ? Bagaimana nasib peradaban mereka setelah itu ? Dan bagaimana pula pengaruh peradaban Arab terhadap dunia Barat, Eropa ?

Itulah beberapa hal menarik yang hendak dikaji dalam tulisan ini, yang kemudian diberi judul: Pasang Surut Peradaban Islam dalam Perspektif Sejarah (Telaah Kritis Peradaban Arab).

 Arab Pra Kebangkitan Islam

Kawasan Timur Tengah (Arab), terutama kota Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad (570 M), menurut catatan Badri Yamin, merupakan kota yang sangat penting baik karena tradisi kultural maupun letaknya (Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 9). Disebut penting karena kawasan ini merupakan jalur perdagangan antar kota Yaman (bagian selatan) dan Syiria (bagian utara). Sehingga Arab sangat terbuka dalam interaksi budaya antar masyarakat sekitar.

Secara geografis, Arab dibagi menjadi dua bagian besar: Tengah dan Pesisir. Masing-masing dikelilingi oleh Sahara yang secara karakteristik arealnya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, Sahara langit memanjang 140 mil yang membentang dari utara ke selatan dan 180 mil dari Timur ke Barat. Kedua, Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara langit ke arah Timur sampai Selatan Persia. Ketiga, Sahara Harrat yank, terdiri dari tanah liat yang berbukit batu yang jumlah keseluruhan mencapai 29 buah (Lihat Ahmad Amin, Fajr al-Islam, Maktabah al-Nahdah al-Mishriyah, Kairo, 1975, hal. 1).

Bangsa Arab sendiri, kiranya belum ditemukan penyebutannya yang paling tepat. Ada yang mengatakan, seperti pengakuan orang Arab sendiri yang dikutip Bernard Lewis, bahwa siapa saja yang hidup di negeri Arab, menggunakan bahasa mereka, dibesarkan di lingkungan mereka dan punya kebanggaan atas kebesaran dan kejayaan mereka (Bernard Lewis, The Arabs in History: New Yorks; Harper and Row, 1967; hal. 9-10).

Sementara Gibb memahami bangsa Arab adalah orang Arab yang menjadikan misi Muhammad dan memori tentang imperium Arab sebagai fakta sentral sejarah dan sebagai tambahan mereka yang memelihara lidah Arab dan warisan kulturnya sebagai milik bersama yang memang sangat memukau itu (H.A.R. Gibb, Modern Trends In Islam, Chicago: The University of Chicago Press, 1947, hal. 7).

Apapun pendefinisian mereka, yang penting adalah sebuah komunitas yang tidak hanya terpaku pada identitas fisik simbolis seperti bahasa, namun sekaligus meliputi emosional psikologis yang kesemuanya itu lahir dari bangsa besar yakni Arab itu sendiri.

Kaitannya dengan asal usul keturunan mereka, secara garis besar memang berasal dari keturunan Qathan dan Ismail bin Ibrahim, yang pada mulanya terpisah karena sutra mengembara dan berpindah-pindandan dan akhirnya membaur menjadi satu. Umumnya mereka itu hidup dalam budaya kesukuan Badui. Salah sate karakteristiknya adalah suka membentuk kabilah dan suku. Hubungan kekerabatan akibat kabilah dan suku itulah mengakibatkan kehidupan mereka sangat etis sentris, sehingga faham kesukuan begitu dipertahankan walaupun kadang-kadang harus ditempuh melalui jalan perang antar mereka sendiri.

Meski demikian, jasa bangsa Arab ini dengan lahirnya kerajaan Saba’ dan Hymyar, telah mengukir peradaban yang mampu mempengaruhi peradaban bangsa lain melalui perdagangan antar Eropa dan dunia Timur Jauh (Lihat A. Salabi, Sejarah Kebudayann Islam I : Pustaka al-Husna, Jakarta, 1933, hal. 37). Oleh sebab itulah, banyak ahli menyatakan bahwa kelahiran Arab merupakan akar dan pintu pembuka peradaban bangsa-bangsa di belahan dunia. Menurut G.M. Wichkens, sebagaimana dikutip Ahmad Syafi’i Maarif bahwa, sejak lama bangsa Arab merupakan sumber pokok dari semua peradaban. Sehingga seluruh bangsa di dunia ini hendaknya berhutang budi bagi upaya-upaya penemuan-penemuan fundamental yang demikian itu (Lihat Ahmad Syafi’i Maarif, Membumikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995, hal. 49). Begitu pentingnya Arab ini, maka kita mengenal adanya beberapa peradaban besar dunia seperti: Asia Barat dan Af rika Utara yang kesemuanya itu ikut mewarnai spiritualitas ummat manusia dalam kurun yang sangat panjang. Sebagai buktinya adalah adanya peradaban Mesir kuno, Peradaban Babilonia dan Assiria. Bangsa inilah dikenal dengan tingkat peradabannya yang tinggi.

Kawasan tersebut juga telah dicatat sebagai tempat kelahiran agama-agama besar yakni Yahudi, Nasrani dan Islam, dan Nabi dan Rasul Allah, yakni Ibrahim, Isa dan Muhammad. Masing-masing melahirkan peradaban yang khas, sehingga berkembang ke berbagai belahan dunia. Bahkan perkembangan peradaban itu merambah hingga Irak, Mesir, Persia, Turki, India, Spanyol, Transoxania (Samarkand dan Bukhara), hingga Asia dan Belahan Eropa. Percaturan masing-masing Agama dan peradaban tersebut, kiranya menempatkan Islam yang dibawa Muhammad sebagai yang paling dominan, terutama akibat keberhasilan dakwahnya. Mulai dari masa pembentukan aqidah di Makkah, ekspansi dan peletakan dasar sosio-politik di Madinah, hingga wafatnya dan dilanjutkan oleh para sahabat (masa keemasan Islam I) dan berlanjut sampai masa keemasan Islam II, sehingga mencapai kawasan seperti disebut di muka.

Perkembangan (Peradaban) Islam

Perkembangan peradaban Islam pasca Muhammad sampai dengan Umayyah dan Abbasyiyah sangat mengesankan. Penaklukan-penaklukan itu bermula dan berlangsung begitu luar biasa: Mulai dari kawasan Timur, Syiria dapat ditaklukkan selama dua tahun saja, pada tahun 634. Tiga tahun setelah itu, Persia dapat pula dikuasai. India juga demikian, dapat ditaklukkan pada tahun 669 dan 716-717. Hingga Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani pada tahun 1453. Sementara itu di wilayah Barat tampak kurang lancar sebagaimana di kawasan Timur tadi, Mesir misalnya ditaklukkan pada tahun 642, Kartago pada tahun 697.

Dengan keberhasilan ekspansi Islam yang dilakukan oleh Ummayah misalnya, baik di Timur maupun Barat yang meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Irak, Asia Kecil, Persia, bukan berarti kerajaan Umayyah berdiri dengan tegar terus menerus. Malahan kerajaan ini secara sistematis digantikan oleh kerajaan Abbasyiah. Kondisi seperti itu oleh Philip K. Hitti, lebih disebabkan oleh sistem politik (pergantian khalifah) yang tidak jelas sehingga mengakibatkan munculnya persaingan di kalangan keluarga istana. Disamping itu masa kerajaan Umayyah masih dipengaruhi oleh sisa-sisa konflik yang terjadi zamannya Ali. (Lihat Philip K. Hitti, History of The Arabs: MacMillan, London, 1970, hal. 281).

Masa berikutnya adalah bertenggernya kerajaan Abbasyiyah dengan pola pemerintahan yang diterapkan berbeda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Oleh sebab itulah, masa panjang pemerintahan Abbasyiah ini, menurut pengamat seperti Bojena Gajane Styzewska, dibagi meniadi 5 periode. Pertama: Periode Pengaruh Persia lama (750 M – 847 M), Kedua: Periode Pengaruh Turki Pertama (847 M – 945 M). Ketiga: Periode Buwaih (945 M – 1055 M), Keempat: Periode Saljuk (1055 M – 1194 M). Kelima: Periode Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, meski hanya efektif di pusat kota Baghdad (1194 M – 1258 M) (Bojena Gajane Styzewska, Tarikh al-Daulat al-Abasyiah : Al-Maktab Al-Tijari, Beirut, tt, hal. 360).

Perlu dikemukakan disini bahwa, popularitas Bani Abbasyiah ini terjadi pada Khalifah Harun Al-Rasyid (786 M – 809 M) dan putranya Al-Makmun (813 M – 833 M), yang termasuk periode pertama. Beliau dapat memanfaatkan kekayaannya untuk kepentingan sosial seperti: Rumah Sakit, Pendidikan, Farmasi dan Rumah Sakit. Sehingga tingkat kesejahteraan sosial dan pendidikan mereka terpenuhi dengan baik.

Periode inilah Baghdad dikenal sebagai Pusat Peradaban Ilmu Pengetahuan dengan berdirinya Baitul Hikmah dan digalakkannya penerjemahan buku-buku terutama dari Yunani ke dalam Bahasa Arab. Akibatnya tranformasi ilmu begitu terinteraksi dengan baik. Kejayaan yang diraih kerajaan Abbasyiah, periode Al-Rasyid dan Makmun ini, ditentukan oleh 2 hal penting, yakni :

Pertama, terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kedua, gerakan terjemahan berlangsung dalam tiga fase: Periode Al-Manshur hingga Harun Al-Rasyid, yang berkonsentrasi dalam bidang astronomi dan manthiq (logika). Kemudian, fase kedua periode Al-Makmun hingga tahun 300 H, yang banyak menerjemahkan bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga: berlangsung setelah tahun 300 H, yang menggalakkan bidang mekanisasi seperti pabrik kertas dan sebagainya.

Dengan gerakan seperti itulah banyak bermunculan tokoh terkenal dalam bidang masing-masing. Sebutlah misalnya: Al-Fargani ahli astronomi, Al-Razi ahli kedokteran anak, Ibn Sina ahli kedokteran dengan karyanya yang monumental “Al-Qanun al-Thibb”, Abu Ali Hasan ibn Haytami ahli teori cahaya, Jabir bin Hayyan ahli kimia, Al-Khawarizmi ahli al-Jabr dan astronomi, Al-Mas’udi ahli ahli geografi dan sebagainya. Bidang-bidang lain seperti filsafat dapat kita jumpai pula seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Ibn Rusyd. Mereka banyak menulis tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles.

Beberapa faktor penyebab begitu mudahnya ekspansi Islam itu, menurut Russel adalah kondisi Syiria dan Bizantium mengalami kelelahan yang diakibatkan oleh peperangan mereka. Islam datang dengan memberikan alternatif berupa sikap toleransi kepada semua sekte dalam Kristen selama mereka mau membayar pajak. Disamping sikap toleransi itu, Islam juga merupakan ajaran Monoteisme sederhana, sehingga mampu menggeser konsep teologis Kristen yakni Trinitas yang dipandang oleh mereka cukup merepotkan itu (Lihat Bertrand Russel, A History of Western Philosophy, 1972, hal. 419-428).

Sementara menurut sumber lain, yakni Muhammad Marmarduki Pickhall menyatakan bahwa sebab kemajuan ekspansi Islam ketika itu adalah Islam semata-mata sebagai agama dakwah bukan agama pedang. Disamping prinsip yang ditegakkan bersumber pada kebenaran yang diwahyukan, dan kebersatuan ummat di bawah naungan Al-Qur’an didalam menyampaikan ajarannya (Lihat Muhammad Marmarduki Pickhall, Kebudayaan Islam: PT. Bungkul Indah, I993, hal. 32-35).

Apa yang dikemukakan oleh kedua tokoh itu mengisyaratkan adanya kesatuan pandangan, sikap dan orientasi yang bersumber pada ajaran tauhid yang berdasar Al-Qur’an. Sehingga muatan tauhid itu memancar dalam sikap toleran, santun dan kasih terhadap sekte-sekte Kristen, Yahudi yang sedang “ditindas” oleh penguasa-penguasa dhalim dan berhati sempit.

Kemunduran (Peradaban) Islam

Periode setelah itu, tepatnya menjelang abad ke 18, dunia Islam mengalami masa kemunduran dan kemerosotannya. Seorang ahli sejarah pemikiran seperti Stoddard mencatat beberapa peristiwa penting yang menimpa kehancuran seperti itu. Dengan hancurnya imperium Moghol (India), Syafawiyah (Persia), Ottoman (Turki) ditambah peristiwa penjarahan Baghdad, pengaruh Yunani dan sikap apatisme ummat Islam ketika itu, maka dengan sendirinya peradaban Islam berangsur merosot.

Peristiwa yang disebutkan terakhir, yakni penjarahan Baghdad dan Pengaruh Yunani, benar-benar membawa kepada kemerosotan peradaban Islam. Penjarahan Baghdad, merupakan bencana yang tiada taranya bagi dunia Islam dan Peradaban Arab-Persia yang telah jaya selama beratus-ratus tahun, kata M.M. Syarif dalam A History of Moslem Philosophy, (Lihat M.M. Syarif, A History of Moslem Philosophy : Wiesbain, 1966, hal. 794).

Iqbal juga menyesalkan adanya peristiwa jatuhnya Baghdad. Ia berucap : penghancuran kota Baghdad yang merupakan pusat kehidupan intelektual pada pertengahan abad ke 13 merupakan pukulan berat (Lihat Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam : Lahore, 1965, hal. 151). Ketika itu telah dibumihanguskan para ilmuan dan masyarakat muslim dengan hilangnya semangat melakukan penyeldikan dan penelitian, penerjemahan dan pemikiran yang orisinal yang merupakan ciri khas Arab itu. Akibatnya kelaparan ilmiah itu melanda beberapa negeri seperti Khurasan, Transoksiana hingga pantai laut Tengah.

Beberapa sebab kemunduran peradaban Islam, menurut catatan Badri Yatim adalah :

  1. Konflik Islam dengan Kristen
  2. Tidak adanya ideologi pemersatu
  3. Kesulitan ekonomi
  4. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan (politik)
  5. Keterpencilan kalangan masyarakat Islam

Dari kelima faktor penyebab kemunduran peradaban Islam diatas, ada faktor dominan yakni hilangnya ideologi pemersatu dan kesulitan ekonomi. Ketika ideologi pemersatu ummat Islam yakni Al-Qur’an mulai ditinggalkan, akibat yang terjadi adalah kegelapan dalam mengarungi peradaban itu sendiri. Kenapa demikian ?. Jawabnya adalah Al-Qur’an merupakan nur bagi kehidupan itu sendiri. Nur tidak mungkin memancarkan cahaya manakala tidak dipakai oleh ummat pemeluknya.

Kecenderungan bangsa lain yang menjarah bangsa Muslim saat itu adalah berupaya menjauhkan Al-Qur’an dari kehidupan mereka. Sehingga ummat menjadi tercabik-cabik, tertatih-tatih dan terperosok dalam jurang kehancuran. Disamping itu adalah bangsa penjajah itu berupaya memiskinkan ummat Islam. Dengan kemiskinan itu, orang tidak berdaya lagi untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Bahkan lebih jauh lagi, dengan kemiskinan itulah ummat (terutama yang telah dijauhkan dari Al-Qur’an) langkahnya menjadi tak terarah dan cenderung bertindak a-moral.

Sisa Peradaban Spanyol Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renaisance Eropa

Jika ditelusuri secara jujur, maka kemajuan Eropa yang begitu pesat seperti yang kita lihat dewasa ini, merupakan jasa baik dunia Islam terutama di Spanyol. Bagaimana tidak?. Secara interaksi intelektual Spanyol merupakan pintu gerbang bagi Eropa, yang dalam catatan Mehdi Nakosteen, pengaruh pemikiran Ibn Rusyd yang gigih melepaskan belenggu taqlid dan menganjurkan kebebasan berfikir, ditambah kemajuan sains di Spanyol dan bangunan fisik lainnya (Lihat Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat : Risalah Gusti, Surabaya, 1996, hal. 271).

Dengan digalakkannya gerakan intelektual itu, maka lahir kemajuan yang bersifat teknologis seperti yang terjadi di dunia Barat. Berawal dari adanya gerakan Averroesisme inilah di dunia Barat (Eropa) lahir reformasi pada abad ke-16 dan rasionalisme pada abad ke-17. Buku-buku Ibn Rusyd banyak diterjemahkan ke dalam bahasa mereka dan diterbitkan di banyak belahan Eropa seperti di Bologna, Srasbourg, Jenewa, dan Napoli dan sebagainya. Ditambah para pemuda Eropa yang giat belajar di berbagai Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, Granada dan sebagainya. Setelah banyak melakukan penyelidikan dan penerjemahan karya orang Muslim Spanyol, terutama di Toledo itu, mereka kembali ke negerinya masing-masing untuk kemudian mendirikan Perguruan Tinggi disana seperti Universitas Paris dan sebagainya.

Transformasi Ilmu Pengetahuan dari kalangan Muslim Spanyol ke dalam dunia Eropa itu, dilakukan melalui dua cara :

Pertama, Kegiatan belajar di Spanyol yang dilakukan oleh para mahasiswa dan cendekiawan.

Kedua, Penerjemahan karya-karya ilmiah Muslim berbahasa Arab di Spanyol ke dalam bahasa mereka.

Apa yang dilakukan dunia Islam dengan tradisi bahasa Arab lewat karya-karya monumental itu, benar-benar telah dimanfaatkan oleh orang Eropa untuk kemudian dikembangkan (seolah-olah) menjadi milik mereka sendiri. Sehingga ada satu ungkapan yang patut dikiaskan untuk itu : Islam telah menjadi lilin untuk menerangi peradaban Eropa, tetapi dirinya sendiri termakan oleh sinaran api itu. Artinya, setelah upaya menggapai abad kemajuan di dunia Islam selama berabad-abad lamanya, justru yang menikmati hasil kemajuan itu adalah orang Eropa. Tentunya ditandai oleh adanya gerakan kebangkitan kembali kebudayaan Yunani Klasik (Renaisance) abad ke-14 M, yang dimulai dari Italia, gerakan reformasi pada abad ke 16 M, Rasionalisme pada abad ke-17 M, dan munculnya pencerahan (Aufklarung) pada abad ke-18 M.

Kini, ummat Islam di berbagai belahan dunia, kembali tertegun dan sadarkan diri untuk merebut kembali kejayaan mereka yang telah ada di genggaman Barat/Eropa. Akankah “ruh” peradaban Islam itu dapat membangkitkan kembali nrenuju kejayaan dunia Muslim?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: