Posted by: faiucy | February 5, 2012

PENGANTAR KEPADA ILMU PENDIDIKAN ISLAM


Ilmu Pendidikan Islam

Oleh : Hakiki Mahfuzh

Awal metafisika Aristoteles dimulai dengan ungkapan bahwa “Setiap manusia ‎pada dasarnya ingin tahu”. Pernyataan ini menjadi landasan pacu bagi lahirnya ‎ilmu pengetahuan yang kita kenal dan ketahui sampai saat ini.  Meskipun pada ‎awal dilahirkan manusia tidak mengetahui sesuatupun, lata’lamuna syaia dalam ‎bahasa Al-Qur’an1), tetapi karena keingintahuannya (curiosity) manusia dapat ‎memiliki, melahirkan  dan mengembangkan ilmu pengetahuan. ‎

Manusia tidak puas diri dengan hanya sekedar mengetahui apa yang terjadi dan ‎dialami dalam kehidupannya sehari-hari. Ia ingin tahu lebih mendalam tentang ‎apa yang terjadi dan dialami, sehingga menjadi jelas baginya bahwa ia benar-‎benar tahu. Untuk itu manusia menggunakan sistem dan metode dalam ‎mendalami apa yang terjadi dan dialami sampai pada akhirnya mengejewantah ‎menjadi ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin. ‎

Lantas apa sebenarnya ilmu pengetahuan itu? Para pakar di bidang ilmu ‎pengetahuan  telah  mendefinisikan ilmu pengetahuan dalam beragam ‎pendekatan dan titik pandang.  Terminologi ilmu pengetahuan ‎

Sumber ilmu Pengetahuan
‎1. Indra (pengalaman)‎
‎2. Akal‎
‎3. Rasio‎
‎4. Intuisi‎

Ada dua istilah yang seringkali membingungkan dalam mendiskusikan ilmu ‎pengetahuan, yaitu pengatahuan dan ilmu pengetahuan atau knowledge dan ‎science. Kedua istilah ini terkadang disamaartikan, padahal keduanya memiliki ‎pengertian yang berbeda. ‎

Agar tidak membingunkan, kedua istilah tersebut perlu dijelaskan. Pengetahuan ‎menurut Ahmad Tafsir2) adalah semua yang diketahui. Kata Pudjawijatna ‎Pengetahuan merupakan hal-hal yang berlaku umum  dan tetap serta pasti dan ‎yang terutama digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sedang Mohammad Hatta ‎mengatakan bahwa pengetahuan (pengalaman) adalah pengetahuan yang ‎diperoleh dari pengalaman. James K Feibleman menyebutkan bahwa ‎‎“Knowlegde is relation between object and subject”. Begitu juga dalam ‎Ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa Pengetahuan manusia merupakan ‎hasil dari berkontaknya dua macam besaran, yaitu ; benda atau hal yang diperiksa, ‎diselidiki dan akhirnya diketahui dengan menusia yang melakukan penyelidikan ‎atau pemeriksaan.  ‎

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu. Seseorang yang ingin tahu, bahwa ‎api itu panas dan es itu dingin ia akan mencari api dan es kemudian merabanya. ‎Setelah itu ia akan tahu bahwa api benar-benar panas dan es benar-benar dingin. ‎

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu. Seseorang yang ingin tahu, bahwa ‎api itu panas dan es itu dingin ia akan mencari api dan es kemudian merabanya. ‎Setelah itu ia akan tahu bahwa api benar-benar panas dan es benar-benar dingin. ‎

Selanjutnya apa yang dinamakan ilmu pengetahuan itu ? Soerjono Soekanto ‎mendefinisikan ilmu pengetahuan sebagai pengetahuan yang tersusun secara ‎sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan mana selalu ‎dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang yang ‎ingin mengetahuinya. Sistematis maksudnya memiliki urutan-urutan tertentu ‎yang merupakan suatu kebulatan, sehingga dengan sitematika tersebut akan jelas ‎tergambar apa yang menjadi garis besar dari ilmu pengetahuan yang ‎bersangkutan.‎

V. Afanasyev dalam Marxist Philosophy (p.342) mendefiniskan ilmu ‎pengetahuan sebagai berikut “Science is the system of man’s knowledge on nature, ‎society and thought. It reflect the word in concepts, categories, and laws, the ‎correctness and truth of which are verified by practical experince”.‎

Ilmu pengetahuan dimulai dengan rasa ragu. Seseorang tidak hanya puas dengan ‎tahu bahwa api itu panas dan es itu dingin. Tetapi ia akan mencoba mencari jejak ‎kenapa api itu panas dan es itu dingin ? Artinya dibalik panasnya api dan ‎dinginnya es ada logika yang dapat mengungkap kenapa api itu panas dan es itu ‎dingin. ‎

Dalam bentuknya yang baku, ilmu pengetahuan itu memiliki paradigma dan ‎metode tertentu. Paradigmanya adalah paradigma ilmu pengetahuan (scientific ‎paradigm) dan motodenya adalah metode ilmu pengetahuan (Scientific method). ‎Paradigma ilmu pengetahuan adalah cara pandang ilmu pengetahuan dan metode ‎ilmu pengetahuan adalah metode yang mengandalkan logika dan bukti empiris. ‎

Dilihat dari sisi tujuan, baik pengetahuan (knowledge) maupun ilmu ‎pengetahuan (science) bertujuan untuk mengetahui atau mencari kebenaran. ‎Hanya saja hasil dari kebenaran yang diperoleh berbeda. Kebenaran ‎pengetahuan tidak mendalam, sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan ‎mendalam. Oleh karena kebenaran ilmu pengetahuan mendalam, maka ilmu ‎pengetahuan berfungsi untuk memprediksi atau meramal (prediction) ‎kecenderungan dan kemungkinan di masa depan, menggambarkan atau ‎melukiskan (deskriptif), mengembangkan (development), dan mengendalikan ‎‎(control).   ‎

Selain pengetahuan dan ilmu pengetahuan, masih terdapat institut lain untuk ‎mendapatkan kebenaran yaitu filsafat. Filsafat menurut Harold H Titus adalah ‎‎(1) An attitude toward life and the universe ( Suatu sikap tentang hidup dan ‎tentang alam semesta) (2) A method of reflective thingking and reasoned inquiry ‎‎(suatu pemikiran reflektif dan penyelidikan aqliyah) (3) A group of problems ‎‎(Sekelompok masalah) (4) A group of systems of thought ( Suatu perangkat teori ‎atau sistem pemikiran. Sedangkan Hasbullah Bakry merumuskan sebagai ‎berikut “Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam, mengenai ‎ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan ‎pengetahuan bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia ‎dan bagiamana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu”.‎

Berbeda dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan, Filsafat dimulai dari rasa ‎ingin tahu dan rasa ragu-ragu dengan segala sesuatu. Pada kasus api itu panas ‎dan es itu dingin, dipertanyakan tidak hanya terbatas pada mengapa api itu panas ‎dan es itu dingin, tetapi juga dipertanyakan apakah yang dapat menjadikan api itu ‎panas dan es itu dingin ? Panas api dan dinginnya es dalam hal ini tidak dapat ‎diuji secara empiris, sehingga metode ilmu tidak dapat diandalkan dalam hal ini. ‎Jawaban terhadap petanyaan apakah yang menjadikan api itu panas dan es itu ‎dingin hanya dapat dipertanggungjawabkan secara logika. Oleh karena itu ‎kebenaran filosofis bersifat logis. ‎


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: