Posted by: faiucy | January 14, 2011

TINJAUAN AGAMA SECARA UMUM


TINJAUAN AGAMA SECARA UMUM

Oleh : Muh. Nasrudin

A.   Definisi Agama

Agama adalah sebuah realitas yang senantiasa melingkupi manusia. Agama muncul dalam kehidupan manusia dalam berbagai dimensi dan sejarahnya. Maka memang tidak mudah mendifinisikan agama. Termasuk mengelompokkan seseorang apakah ia terlibat dalam suatu agama atau tidak. Mungkin seseorang dianggap termasuk pengikut suatu agama tetapi ia mengingkarinya. Mungkin sebaliknya seseorang mengaku memeluk sebuah agama, padahal seseungguhnya sebagian besar pemeluk agama tersebut mengingkarinya.

Di bawah ini akan dijelaskan pengertian agama secara umum, yaitu sebagai berikut:

  1. Agama menurut pengertian bahasa banyak sekali, antara lain diartikan: Peraturan, undang-undang, tata cara, syari’at, ta’at dan lain sebagainya.
  2. Agama menurut pengertian istilah umum ialah: “Pengakuan manusia tentang adanya yang dianggap suci, kemudian manusia itu insyaf, bahwa yang dianggap suci itu mempunyai kekuatan yang melebihi dari segala kekuatan yang ada.
  3. Kemudian perkataan “Agama” itu berasal dari bahasa Sansekerta, yang tersusun dari dua perkataan: A= tidak dan gama = kocar-kacir.      Ataupun A = yang  dan  gama = suci

Maka kalau kita hubungkan antara pengertian agama menurut bahasa dengan pengertian asal perkataan agama itu sendiri dapat disimpulkan yaitu: “Peraturan-peraturan yang tidak kocar-kacir”. Dengan kata lain “Peraturan-peraturan yang tersusun dengan harmonis, rapi teratur untuk pedoman hidup ummat manusia”.[1]

Oxford Student Dictionary (1978) mendifinisikan agama (relegion) dengan “The belief in the existence of supranatural ruling power, the creator and controller of the universe”, yaitu suatu kepercayaan akan keberadaan sesuatu kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta. Agama (relegion) dalam pengertiannya yang paling umum diartikan sebagai sistem orientasi dan obyek pengabdian. Dalam pengertian ini semua orang adalah makhluk relegius, karena tak seorangpun dapat hidup tanpa suatu sistem yang mengaturnya dan tetap dalam kondisi sehat. Kebudayaan yang berkembang di tengah manusia adalah produk dari tingkah laku keberagamaan manusia.

Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu:

  1. Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur mengatur dan mencipta alam.
  2. Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.
  3. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinannya tersebut.

B.  Jenis-Jenis Agama

1.   Ditinjau dari sumbernya agama dibagi  dua macam, yaitu:

  1. Agama wahyu, yaitu agama yang diterima oleh manusia dari Allah Sang Pencipta melalui Malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat manusia. Wahyu-wahyu dilestarikan melalui Al-Kitab, Suhuf (lembaran-lembaran bertulis) atau ajaran lisan. Contoh agama wahyu adalah: Yahudi, Nasrani, Islam.
  2. Agama bukan wahyu, yaitu agama yang bersandar semata-mata kepada ajaran seorang manusia yang diangap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspeknya secara mendalam. Contohnya agama Budha yang berpangkal pada ajaran Sidharta Gautama dan Confusianisme yang berpangkal pada ajaran Kong Hu Cu. Meskipun pada umumnya tidak diakui secara formal, sesungguhnya banyak isme-isme yang dianut oleh manusia berlaku pula sebagai agama bukan wahyu.
  1. Ditinjau dari misi penyebarannya agama dibagi menjadi dua macam:
  2. Agama Misionari, yaitu agama yang menuntut penganutnya untuk menyebarkan ajaran-ajarannya kepada manusia lain.
  3. Agama bukan misionari, yaitu yang tidak menuntut penganutnya untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Jadi cukup disebarkan kepada lingkungan tertentu yang menjadi misi utamanya.[2]

C.  Hubungan Manusia dan Agama

1.  Fitrah manusia terhadap agama

Perkembangan hidup dan cara berpikir manusia, sejak zaman yang sangat sederhana (primitif) sampai kepada zaman yang modern di abad dua puluh satu ini, nyata dan jelas pada prinsipnya pemikiran mereka yang asli ialah mengakui tentang adanya yang ghai dan Yang Maha Kuasa, yakni yang menguasai alam semesta ini dan dirinya sendiri.

Jadi pada dasarnya, fitrah (naluri) manusia terhadap agama sudah tersedia. Hanya saja cara perkembangan dan pemikiran untuk menyampaikan mereka kepada dzat Yang Maha Kuasa itu berbeda-beda, menurut tingkat kehidupan, pengaruh millieu dan pendidikan, yang menyebabkan mereka itu menyimpang dari fitrahnya.

Hal yang demikian, merupakan juga salah satu ciri perbedaan di antara manusia dengan hewan. Sebab Allah swt. menanam dalam jiwa manusia itu daya berfikir dan merenungkan yaitu rasa kekaguman seperti kesuburan tanahnya, keindahan alamnya. Dan kecemasan terhadap alam makro (alam semesta) ini, seperti gempa, banjir, kebuasan dan keganasan.

Gejala-gejala alamiyah ini yang menyebabkan manusia purba (primitif) berusaha mencarinya untuk dipuja dan disembah, untuk memberi sesembahan, pemujaan, sebagai tanda terima kasih ataupun minta dihindarkan dari malapetaka keganasan bencana alam. Maka muncullah ide penyembahan pada bulan, matahari, bintang, api pohon dan segala macam yang mereka anggap ada effek positif dan negatif dari kehidupan mereka.

Menurut Harun Nasution Agama ada yang bersifat primitif dan ada pula yang dianut oleh masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Agama-agama yang terdapat dalam masyarakat primitif adalah dinamisme, animisme dan politeisme

1. Agama dinamisme mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat.  Benda yang mempunyai sifat baik, disenangi dan dipakai dan dimakan agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Benda yang mempunyai kekuatan gaib jahat, ditakuti dan oleh karena itu dijauhi.

Dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut  “Mana” dan dalam bahasa Indonesia “tuah atau sakti”. Dalam masyarakat kita orang masih menghargai barang-barang yang dianggap sakti dan bertuah, seperti keris, batu cincin dan lain-lain. Dalam faham agama dinamisme bertambah mana yang diperoleh seseorang bertambah jauh ia dari  bahaya dan bertambah selamat hidupnya. Kehilangan mana berarti maut. Oleh karena itu tujuan beragama di sini ialah mengumpulkan mana sebanyak mungkin.

Dalam masyarakat primitif terdapat dukun atau ahli sihir, dan mereka inilah yang dianggap dapat mengontrol dan menguasai mana yang beraneka ragam itu. Mereka dianggap dapat membuat mana pindah dari satu tempat ke tempat lain dan dengan demikian dapat membuat mana mengambil tempat di benda-benda yang telah mereka tentukan, biasanya benda-benda kecil yang mudah diikatkan ke anggota badan dan mudah dapat di bawa ke mana-mana. Benda serupa ini disebut “fetish”.

2. Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak  bernyawa, mempunyai roh. Roh dalam masyarakat primitif  belum mengambil bentuk roh dalam faham masyarakat yang telah lebih maju.  Bagi masyarakat primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh-roh ini diberi sesajen untuk menyenangkan hati mereka, sesajen dalam bentuk binatang, makanan, kembang dan sebagainya. Roh-roh nenek moyang juga menjadi obyek yang ditakuti dan dihormati.

Tujuan beragama di sini adalah mengadakan hubungan baik, dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Yang dapat  mengontrol roh-roh itu sebagai halnya dalam agama dinamisme ialah juga dukun atau ahli sihir.

3. Politeisme mengandung kepercayaan pada dewa-dewa. Dalam agama ini hal-hal yang menimbulkan perasaan taajub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh tetapi oleh dewa-dewa. Kalau roh-roh dalam animisme tidak diketahui tugas-tugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu.

Berlainan dengan roh-roh, dewa-dewa diyakini lebih berkuasa. Oleh karena itu tujuan hidup beragama di sini bukanlah hanya memberi sesajen dan persembahan-persembahan kepada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa pada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan.

Ada kalanya satu dari dewa-dewa itu yang meningkat di atas segala dewa lain seperti Zeus dalam agama Yunani kuno, Yupiter dalam agama Romawi dan Ammon dalam agama Mesir kuno. Ini belum berarti pengakuan pada satu Tuhan, tetapi baru pada pengakuan dwa terbesar di antara dewa-dewa yang banyak. Faham ini belum meningkat pada faham Henoteisme atau monotiesme, tetapi masih berada dalam tingkat politeisme.

Tetapi kalau dewa yang terbesar itu saja kemudian yang dihormati dan dipuja, sedang dewa-dewa lain ditinggalkan, faham demikian telah keluar dari politeisme dan meningkat kepada henoteisme. Henoteisme mengakui satu Tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai Tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung faham tuhan nasional. Faham yang serupa ini terdapat dalam perkembangan faham keagamaan masayarakat Yahudi. Yahweh pada akhirnya mengalahkan dan menghancurkan semua dewa suku bangsa Yahudi lain, sehingga Yahweh menjadi tuhan nasional bangsa Yahudi.

Dalam masyarakat yang sudah maju agama yang dianut bukan lagi dinamisme, animisme, politeisme atau henotiesme, tetapi agama monotiesme, agama tauhid. Dasar ajaran monotiesme  ialah Tuhan Satu, Tuhan Maha Esa, pencipta alam semesta. Dengan demikian perbedaan antara henoteisme dan monoteisme ialah bahwa dalam agama akhir ini Tuhan tidak lagi merupakan tuhan nasional tetapi Tuhan internasional, Tuhan semua bangsa di dunia ini bahkan Tuhan Alam Semesta.[3]

Kisah untuk mencari dzat Yang Maha Kuasa ini pernah dilukiskan oleh Allah swt. semasa Nabi Ibrahim as, dengan firman-Nya

Jn=sù £`y_ Ïmø‹n=tã ã@ø‹©9$# #uäu‘ $Y6x.öqx. ( tA$s% #x‹»yd ’În1u‘ ( !$£Jn=sù Ÿ@sùr& tA$s% Iw =Ïmé& šúüÎ=ÏùFy$# ÇÐÏÈ $£Jn=sù #uäu‘ tyJs)ø9$# $ZîΗ$t/ tA$s% #x‹»yd ’În1u‘ ( !$£Jn=sù Ÿ@sùr& tA$s% ûÈõs9 öN©9 ’ÎTωöku‰ ’În1u‘ žúsðqà2V{ z`ÏB ÏQöqs)ø9$# tû,Îk!!$žÒ9$# ÇÐÐÈ

Artinya:

Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat.” (Q.S. Al-An’am: 76-77)

Kemudian Allah swt yang Maha Pengasih dan Penyayang, menurunkan  wahyu dari langit sebagi petunjuk untuk membimbing umat manusia melalui para Rasul-Nya. Maka dari masa ke masa turunlah sinar wahyu dan oleh sementara orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah swt. menerima dengan tangan terbuka. Tetap sebaliknya ada juga yang menolak karena mereka terpengaruh oleh naluri kehewanan ataupun mereka yang masih mempertahankan adat istiadat primitif yang diwarisi oleh nenek moyang mereka.

Oleh karena itu, sebagai manifestasi dari hal-hal tersebut, maka dapat kita rinci sebagai berikut:

  1. Mereka percaya ada-Nya Yang Maha Kuasa itu sesuai dengan ajaran yang sebenarnya, yaitu ajaran yang datangnya dari Allah swt (agama samawi atau tauhid)
  2. Mereka percaya ada-Nya Yang Maha Kuasa, tetapi menyeleweng dari ajaran yang sebenarnya, yaitu ajaran yang mereka buat-buat sendiri menurut pikiran mereka. Umpamanya untuk memudahkan mereka berhubungan dengan Dzat Yang Maha Kuasa itu, mereka wujudkan dengan benda-benda yang konkrit seperti patung, batu dan kayu-kayu yang besar dan lain sebagainya (agama ardhiyah-syirik)
  3. Mereka yang tidak percaya dengan ada-Nya Yang Maha Kuasa (Atheis). Hal ini adalah penyelewengan dari fitrahnya yang asli dan menentang kodratnya sendiri.

Namun demikian, pada hakekatnya tuntutan beragama itu tetap ada di jiwa mereka, walaupun pada lahirnya mereka itu atheis (anti Tuhan). Mengapa demikian ?  Hal ini dapat dijawab berdasarkan fakta yang nyata di dalam kehidupan umat manusia itu sendiri, yaitu dikarenakan manusia itu menurut instinknya sudah membawa perangai/tabi’at yang suka kepada kenormalan (kesempurnan) hidup, baik rohani maupun jasmani.

Disamping itu juga, naluri setiap orang itu menginginkan kebahagiaan abadi. Dan perasaan, pengamatan dan pengamalan kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: ilmu, kekuasaan, pangkat, harta kekayaan tidak dapat menjamin kebahagiaan yang abadi, kesempurnaan yang hakiki.

Oleh karena itu, sudah barang tentu kita berusaha mencari jalan untuk mencapai ke arah kesempurnaan dan kebahagiaan yang abadi tersebut. Sedangkan kesempurnaan, kebahagiaan tidak akan dapat dicapai tanpa peraturan tertentu. Di sinilah letak kebingungan manusia di dalam merumuskan peraturan yang sesuai dengan fitrah yang asli itu. lebih-lebih kalau manusia itu sudah menyeleweng daripada ajaran agama fitrah. Maka sebagai akibat dari penyelewengan tersebut, timbullah bermacam-macam peristiwa yang dapat membahayakan bagi kehidupan seluruh umat manusia.[4]


[1] Lebih jauh lihat  M. Noor  Matdawam,  Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama (Aqidah Islamiyah), cet. II  (Yogyakarta: Bina Karier, 1989), hlm. 1

[2] Depag RI.,  Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, (Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2001), hlm. 28-30

[3] Harun Nasution,  Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985),   hlm. 11-15

[4] Lebih jauh lihat Noor Matdawam,  Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, …… hlm.6-9


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: