Posted by: faiucy | May 3, 2012

Agama dan Spiritualisme Budaya-Pertanian


Agama dan Spiritualisme Budaya-Pertanian

Oleh: Bustan Basir Maras[1]

A. Pengantar

 Telah menjadi kecenderungan agama-agama dalam mengembangkan ajarannya masing-masing, lebih banyak berkutat pada persoalan-persoalan ke-Tuhan-an daripada persoalan-persoalan lain yang justru bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari. Seperti persoalan-persoalan sosial yang sesungguhnya juga kelak akan bermuara pada Zat yang satu, Tuhan yang maha esa.

Padahal jika ditelusuri lebih jauh, hampir semua agama yang turun ke bumi dan dianut oleh manusia, selalu mengisyaratkan pentingnya keseimbangan dunia dan hari akhir (pasca kematian manusia). Namun yang terjadi, dalam konteks penyiaran dan penyadaran umat manusia lewat agama, hal-hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan ibadah formal[2] kepada Tuhan yang Maha Esa seringkali dinomer-duakan. Meskipun sesungguhnya justru dalam dialektika sosial itulah, akan ditentukan ‘selamat’ dan tidaknya manusia setelah berserah diri pada yang kuasa.

Salah satu kebudayaan manusia tertua yang sangat jarang mendapat perhatian di dalam banyak mimbar-mimbar dan rumah-rumah ibadah kegamaan manapun, adalah  budaya pertanian yang sesungguhnya justru memiliki peranan yang sangat penting sepanjang sejarah peradaban manusia dari masa ke masa. Tetapi porsi perbincangan seputar dunia pertanian, sangat jarang kita dengarkan di berbagai rumah-rumah ibadah, minimal di Indonesia yang sesungguhnya memiliki sejarah kebudayaan yang gemilang dalam konteks agraris dan budaya maritim. Artinya, kekayaan  yang sesungguhnya yang paling nayata dimiliki negeri ‘Gemah Ripah Loh Jinawai’ ini, justru peradaban agraris dan maritim yang sama-sama pernah mencapai puncak kejayaannya dalam kegemilangan sejarah peradaban nusantara Indonesaia.

Padahal jika membaca pengertian dan maksud dilahirkannya agama-agama manusia, semuanya mengarah pada dua hal. Yakni, bagaiamana manusia mencapai kebahagaian dan keselamatannya pada era ‘pra kematian’ dan ‘pasca kematian’. Semua agama mengajarkan bahwa setelah kehidupan dunia berakhir, maka kehidupan di alam lain telah menanti. Maka sangat penting artinya berbuat yang terbaik, ketika masih berada di alam dunia, sebelum berpindah ke alam lain (alam pasca kematian). Agar manusia dapat mencapai kebahagiaan pada era ‘pra kematian’ dan ‘pasca kematian’, hendaklah sang manusia itu menjadi bagian dari kedamaian dunia, tidak merusak alam, tidak mengganggu kepentingan orang lain, bekerja sesuai tuntunan agama yang dianutnya, dan bertekat agar setiap apapun yang dilakukannya memiliki nilai manfaat tinggi bagi keberlangsungan hidup manusia di muka bumi. Salah satu pilihan pekerjaan yang baik ketika masih di dunia, dalam rangka menjaga alam semesta dari kerusakan dan memberi mamfaat bagi kehidupan manusia, adalah menjadi petani atau menekuni dunia pertanian. Tentunya pertanian sesuai konteks kemajuan zamannya masing-masing. Sebab kini adalah era industri, tentunya pertanian tidak lagi dapat dipandang sebelah mata, sebab industri pertanian pun jika dimenej dengan baik, akan mencapai puncak keberhasilannya dan akan memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi yang bahan pokok konsumsinya berasal dari ladang pertanian. Ini terjadi di seluruh belahan bumi ini, baik di barat maupun di timur, baik di kutub utara maupun selatan.

Dalam konteks pertanian di Indonesia misalnya, tercatat di dalam sejarah panjang, bangsa ini beberapa kali mengalami puncak kejayaan pertanian. Pasang surut keberhasilan pertanian di Indonesia antara lain dicatatkan dalam teori ‘Involusi Pertanian’ Clifford Geertz. Teori ‘involusi pertanian’ dilontarkan oleh Geerrtz untuk menggambarkan kemunduran pertanian di Jawa awal tahun 1960-an secara struktural, setelah kesuksesan pertanian berpuluh tahun sebelumnya, lewat pola-pola tradisional, seperti pertanian gogorancah, markuti dan lain-lain. Akan tetapi, kisah ini bukan narasi besar tentang sektor pertanian kita, yang selalu saja menempatkan petani sebagai obyek. Ini kisah tentang terpuruknya Sulasih (45 tahun), petani dari Desa Compreng, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dengan demikian, Penelitian Geertz, tentang kemunduran pertanian di Jawa telah berkontribusi melahirkan revolusi hijau di Indonesia; intensifikasi pertanian yang bersandar pada penggunaan pupuk kimia, insektisida, benih monokultur, irigasi dan mekanisasi. Revolusi hijau yang diterjemahkan oleh pemerintah Indonesia menjadi Bimbingan Massal (Bimas) dan Inmas itu, sempat mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar, menjadi swasembada beras pada tahun 1984. Atas kesuksesan itu, Presiden Soeharto, menuai penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada tahun 1985.
Namun, kesuksesan itu tak berlangsung lama, sebab sejak tahun 1990-an Indonesia harus kembali mengimpor beras yang berdiri di atas penderitaan petani.

Seiring dengan gencarnya provokasi dari petugas penyuluh lapangan (PPL) yang masuk ke Desa Compreng akhir tahun 1960-an, Sulasih mulai meninggalkan markuti, padi gogo varietas asli dari kampungnya, yang dari dulu menghidupi keluarganya. “PPL datang membawa padi IR. Katanya hasilnya lebih banyak dan bisa ditanam setahun dua kali karena usianya pendek. Kalau Markuti bisa sampai lima bulan baru panen,” kata Sulasih. Jika Markuti menggunakan sistem pengairan alami, tergantung dari berkah Bengawan Solo, padi IR butuh pengairan yang rutin. Sulasih sampai menjual sapinya untuk membeli pipa dan pompa air guna mengalirkan air Bengawan Solo, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari sawahnya. Sulasih juga mulai mengenal pupuk. ”Kalau Markuti, dulu tidak perlu dipupuk. Tinggal ditabur benihnya dan ditunggu saja, setelah lima bulan dipanen dengan anai-anai. Setelah itu bisa dipanen lagi sampai satu tahun baru tanam lagi,” kata dia. Hasil panen padi IR—yang digelontor banyak pupuk kimia—memang terbukti lebih tinggi dibandingkan dengan Markuti. Namun efeknya kini, lahan pertanian di negeri ini kehilangan unsur hara tanah yang tak berkesudahan, dan belum tentu dapat dikembalikan dalam waktu singkat.

Dalam berbagai penelitian disebutkan, intensifikasi pertanian di Jawa telah meningkatkan produktivitas lahan menjadi dua kali lipat. Akan tetapi, yang tak diperhitungkan, produktivitas itu ternyata juga diikuti dengan lonjakan biaya produksi. Biaya yang tak sanggup ditopang petani sendiri karena kemandirian mereka telah dipangkas oleh sesuatu yang serba ”dari luar”. Pupuk, yang tak lagi diproduksi ternak, traktor yang harus menyewa, dan genset untuk mengalirkan air. Maka, sebagian petani mulai mengenal utang untuk menanam padi. Di sisi lain, ancaman kegagalan panen juga meningkat karena benih monokultur yang ditanam secara massal ternyata rentan terhadap serangan hama massal.

Sejak tahun 1990-an, seiring dengan goyahnya swasembada dan beras kembali harus dibeli dari luar negeri, kehidupan ekonomi Sulasih terus memburuk. Demikian halnya yang dialami jutaan petani lainnya. Pupuk subsidi, di lapangan sulit didapat dan harganya dipermainkan tengkulak. Sementara itu, saat panen massal, harga gabah anjlok. Sebuah ‘involusi petani’ telah terjadi[3]. Petani benar-benar terpuruk dan masih terus terjadi hingga hari ini. Yang lebih memprihatinkan, ‘Beras Delanggu’ yang telah memiliki brand market luar biasa di era swasembada beras, kini tinggal nama. Klaten-Delanggu dalam tiga masa panen terakhir mengalami gagal panen yang mengancam sistem pertanian di Klaten[4].

Lebih jauh, dalam dalam teori ‘involusi pertanian’ Geertz ini, yang memiliki keterkaitan dengan proses pemiskinan para petani, dijelaskan mengenai pola kebudayaan pertanian yang berkembang menjadi semakin ‘rumit ke dalam’. Misalnya jika seorang petani memiliki lahan pertanian seluas dua hektar, sedangkan ia memiliki dua anak, maka lahannya akan dibagi dua. Untuk masing-masing anak, berarti satu hektar. Dengan begitu maka generasi berikutnya, anak dari anak petani tersebut, praktis akan memiliki lahan yang semakin sempit atau sedikit. Dan itu kalau seorang petani memiliki dua anak saja. Bagaimana dengan petani yang memiliki empat, lima atau enam orang anak atau lebih. Ini berarti, bahwa dengan bertambahnya tingkat kependudukan yang menjadi ancaman dan bom waktu di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia dan India, akan mengakibatkan kondisi para petani menjadi semakin miskin.

Hal itu terjadi pada Pak Darno, seorang petani dari kampung Tlogopakis-Petungkriyono-Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam obrolan santai kami di dangau tengah sawah miliknya, ia menuturkan bahwa sawah bagi mereka adalah hal yang vital. Sebab makanan pokok penduduk Petungkriono pada umumnya adalah nasi atau beras. Itulah sebabnya sehingga sawah dan padi menjadi sangat vital bagi kehidupan mereka.

“Sawah ini warisan dari nenek moyang kami turun-temurun. Inilah yang menjadi sumber penghidupan kami selama ini. Meskipun lama kelamaan semakin habis, sebab dibagi dengan beberapa saudara ibu saya, warisan dari Mbah Kakung !” kata Pak Darno sambil menghisap tembakau yang dilinting dengan klobot [5].

Banyak kritik memang mengenai teori ‘involusi pertanian’ yang mengatakan bahwa para petani tidak selalu sebagai subyek yang pasif, statis, dan tunduk kepada sistem yang menguasainya. Mang Uju (68 tahun), adalah salah seorang petani perkebunan kelapa sawit yang bertransmigrasi dari Sumedang ke Kalimantan Tengah, yang telah memberi bukti bahwa petani adalah manusia yang aktif, kreatif, tidak pasrah, dan dinamis, bukan statis.

Pemikiran Geertz, tokoh antropologi dunia asal Amerika Serikat itu, meluncur deras begitu saja dari mulut Mang Uju, yang tak tamat SD. Memang tidak dengan kalimat-kalimat ilmiah melainkan dengan bahasanya sendiri. Bahkan Mang Uju tidak mengenal atau mengetahui bahwa apa yang dikatakan atau pemikirannya tersebut telah menjadi tesis dan diterbitkan menjadi buku berjudul “Agricultural Involution” (1963) oleh seorang professor. Yang pasti pemikiran mengenai ‘Involusi Pertanian’ itulah yang melatar belakangi apa yang dilakukan Mang Uju selama ini. Meskipun mungkin Mang Uju tidak pernah tahu menahu soal teori Geerrtz tersebut.

Untuk membuktikan bahwa petani adalah manusia yang aktif, kreatif, dan dinamis, yang tidak mengalami pemiskinan yang ‘rumit ke dalam’, Mang Uju kini justeru memiliki lebih dari tujuh hektar lahan perkebuanan kelapa sawit, yang awalnya hanya dua hektar saja. Ini artinya lahan perkebunan Mang Uju mengalami perkembangan “ke luar” bukannya “ke dalam” (menyempit) sebagaimana yang dibayangkan Geertz. Mekipun Involusi pertanian yang dibicarakan Geertz dalam gagasan ini tidaklah hanya kerumitan-kerumitan soal penyempitan lahan, tetapi juga kerumitan-kerumitan lain yang justru menjadi awal mula kecelakaan baru bagi pertanian Indonesia[6].

 B. Keutamaan Pertanian Dalam Pandangan Beberapa Agama

 Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), tentu tidaklah hanya menjadi sebuah jargon belaka. Islam dalam perjalanan sejarah panjangnya, telah memasuki kedalaman berbagai problem dan dialektika sosial budaya kehidupan manusia, serta mejadi jalan lurus yang mesti tertempuh bagi mereka yang ingin mencapai keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak[7]. Demikianlah Islam mengabarkan nilai-nilai universalnya bagi kehidupan manusia di muka bumi agar menjadi jalan keselamatan bagi hidup manusia.

Sebab itulah, sehingga kaum muslim adalah khalifatan fil ardi, pemimpin di muka bumi, yang harus setia menjaga lingkungan dan merawat dengan sepenuh hati segala karunia Tuhan di alam semesta. Dengan demikian, profesi apapun yang menjadi aktifitas utama manusia, mutlak baginya memberi manfaat bagi manusia lainnya dan alam raya keseluruhan di mana manusia berada.

Dalam konteks ini yang tak kalah pentingnya, profesi sebagai petani, tentu saja akan menemukan kemuliaannya sebagai orang-orang yang merawat dan sekaligus mendapatkan rejeki secara langsung dari kekayaan bumi yang dianugrahkan oleh Allah swt. kepada manusia. Menurut sebagian ulama, kegiatan di bidang pertanian adalah merupakan salah satu diantara sekian banyak cara yang mudah bagi manusia untuk mendapatkan ganjaran pahala dari Allah swt, di samping mendapat manfaat atau pendapatan yang halal, dari hasil pertanian secara langsung.

Secara umum, Islam dalam banyak fokus kajiannya, masih cenderung terpaku pada kajian-kajian yang mengarah pada ibadah mahdho atau hubungan pertikal kepada Allah swt, dan masih jarang berbicara problem-problem horisontal (sosial budaya yang spesifik), seperti soal kelautan dan pelayaran, pertanian, soal tukang ojek, tukang becak, supir angkot, atau problem-problem lain yang tidak berhubungan langsung dengan masalah-masalah keilahian. Tema pertanian adalah salah satu tema yang paling jarang dibicarakan secara spesifik dalam forum-forum Islam, atau dalam majlis-majlis pengajian yang identik atau melulu berbicara soal ibadah mahdho. Idealnya, secara proporsional, perbincangan atau pengajian yang bertema vertikal (ketuhanan/kholistik) dengan tema horisontal (kebudayaan manusia) dan lain-lain semacamnya, seharusnya berimbang dengan tema-tema lain. Sebab Tuhan juga sedemikian gamblang menggambarkan hal tersebut dalam alquran dan kitab-kitab agama-agama di dunia.

Dalam hal ini sejumlah ulama berselisih pendapat mengenai usaha yang paling baik dalam mencari rejeki menurut Islam. Semisal perniagaan, pertukangan ataupun pertanian. Menurut Imam An-Nawawi dalam Shahihnya, pekerjaan yang baik dan paling afdhal, ialah pertanian. Inilah pendapat yang sahih, kerena makan dari hasil pertanian, adalah merupakan pendapatan rezeki yang langsung dari hasil tangannya sendiri dan ia juga memberi manfaat kepada orang lain, umat Islam dan kepada binatang. Di samping itu bidang pertanian juga membawa para petani kepada sifat tawakkal[8]. Terutama dalam konteks Negara agraris seperti Indonesia. Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MSc[9], menuturkan bahwa pertanian adalah sektor yang sangat strategis bagi bangsa Indonesia. Ia adalah salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Ustadz Didin (begitu ia akrab disapa) menambahkan, dalam sebuah riset terbaru ADB (Asian Development Bank) dinyatakan bahwa setiap sektor pertanian yang tumbuh hingga 10 persen, maka jumlah orang miskin akan berkurang 1,5–12 persen. Studi ini menunjukkan bahwa pertanian sampai kapan pun harus tetap mendapat perhatian yang besar dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Bahkan, di negara-negara maju yang menjadikan sektor industri dan jasa sebagai tulang punggung perekonomiannya, perhatian dan keberpihakan terhadap sektor pertanian sedemikian kuatnya. Sebagai contoh, subsidi untuk seekor sapi di Uni Eropa mencapai 2,5 dolar AS setiap harinya. Jauh lebih besar dari pendapatan 75 persen masyarakat Sub-Sahara Afrika yang rata-rata berada di bawah 2 dolar AS per hari. Demikian pula petani di Jepang, yang diproteksi dengan tarif tinggi, yang mencapai angka di atas 400 persen. Mereka mengampanyekan liberalisasi ekonomi, tetapi petaniannya tetap dilindungi.

Ada beberapa hal yang menjadi indikator pentingnya sektor ini. Pertama, ditinjau dari besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki. Kedua, kontribusi sektor pertanian terhadap penyerapan angkatan kerja masih sangat besar dan signifikan. Ketiga, menjadi basis pertumbuhan pedesaan. Bahkan tidak hanya itu, sektor pertanian juga berpotensi dalam mengurangi angka kemiskinan.

Pertanian atau bercocok tanam mendapat perhatian penting dalam ajaran Islam. Sejak 14 abad silam, Islam telah menganjurkan umatnya untuk bercocok tanam serta memanfaatkan lahan secara produktif. Tak hanya itu, Rasulullah Saw. juga telah mengajarkan tata cara sewa lahan serta pembagian hasil bercocok tanam. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umatnya untuk bercocok tanam[10].

Dari Jabir bin Abdullah RA, ia bercerita bahwa Rasulullah Saw bersabda:  “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.”. Lalu dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya.”[11].

Berdasarkan hadits di atas, di sinilah para petani menemukan kemuliaannya. Sebab apapun yang ditanam oleh seorang petani, bukanlah hasil akhirnya yang menjadi kemuliaan. Tetapi andai pun apa yang ditanam oleh petani itu dimakan oleh hama atau binatang lainnya, bagi Allah itu adalah kemuliaan. Sehingga dalam konteks Islam, bagi petani tidak ada kerugian baginya. Sebab semuanya adalah amalan yang mulia disisi Allah Swt. Apalagi jika apa yang ditanamnya berhasil, maka akan semakin tinggilah derajat si petani itu, sebab akan membawa berkah yang seluas-luasnya bagi kehidupan universal alam semesta.

Kedua hadits di atas menunjukkan betapa bercocok tanam tak hanya memiliki manfaat bagi seorang petani saat hidup di dunia. Bertani atau bercocok tanam juga memberi manfaat untuk kehidupan di akhirat kelak. Sebab, tanaman yang dikonsumsi dan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, hewan maupun yang lainnya, akan menjadi sedekah bagi orang yang menanamnya.

Dari beberapa eksplorasi di atas, tentu ada prinsip yang masih sangat relevan dengan kondisi pembangunan kebudayaan dunia pertanian Indonesia saat ini. Minimal akan mendorong  keberpihakan bagi petani di Indonesia. Ini adalah prinsip yang sangat fundamental. Berdasarkan kajian sejarah, petani selalu berada pada kondisi yang lebih lemah posisi tawarnya dalam sebuah sistem dialektika kebudayaan dan peradaban manusia, kapan pun dan dimanapun berada. Mulialah para petani.

Spiritualisme dalam dunia pertanian yang terinspirasi dari agama, sesungguhnya  tidak hanya ada dalam budaya pertanian Islam. Dalam ajaran agama-agama non Islam pun juga banyak membicarakan tema pertanian. Minimal tema alam semesta dan segala kesuburan dan apa saja yang tumbuh di atasnya. Memang agama seringkali tidak membicarakan secara spesifik budaya pertanian tertentu. Tetapi hampir semua agama memberi isyarat universal bagi manusia atau pemeluknya, akan pentingnya merawat dan menjaga alam semesta, menggunakan dan mendayagunakannya secara sederhana saja segala potensinya, tanpa berbuat kerusakan sekecil apapaun yang dapat membuat murka Tuhan terhadap kehadiran manusia di muka bumi.

Dalam sebuah riset singkat saya di Bangriang, Tanhamhom-Hatyai-Soungkla, Thailand, hampir setiap hari saya mendatangi ladang-ladang dan sawah-sawah petani di daerah-daerah terpencil di Thailand Selatan. Salah satu narasumber saya bernama Jupangju, warga desa Bangriang[12].

Berkulit gelap sawo matang, Jupangju, adalah pria paruh baya yang tetap setia turun ke ladang, menyiangi padi dan sesekali membacok getah karet sepulang dari sawah. Hidupnya tak ruwet sebagaimana yang dialami oleh orang-orang perkotaan. Simpel saja, ia menghindari terlalu banyak kemauan dan keinginan, sebab kehidupan dan keinginan yang banyak, hanya akan melahirkan samsara (penderitaan).

Demikianlah Jupangju, seorang penganut agama Budha memaknai hidup dan kediriannya sehari-hari. Baginya, bekerja sehari-hari, turun ke sawah atau berpeluh ditelan kebun karet yang luas dan pulang di siang hari atau di sore hari, bukanlah tujuan utama hidupnya. Yang terpenting baginya, bagaimana ia memperlakukan alam dan pekerjaannya dengan baik dan cara ia bekerja dengan benar, sebagai salah satu jalan kemuliaan yang harus ditempuh sebagai seorang Budha.

Dalam bahasa Thai yang fasih, Ju begitulah ia akrab disapa penerjemah saya dari Soungkla University, menuturkan prinsip dan spiritualisme hidupnya sebagai petani, dalam ‘Delapan jalan kemuliaan menjadi Budha’. Antara lain: Satu, Pandangan yang benar dengan percaya pada empat kebenaran suci, yakni; 1.) Eksistensi adalah penderitaan, 2.) yang menyebabkan penderitaan adalah keinginan dalam hidup dan keterikatan pada benda-benda duniawi, 3). penderitaan berhenti setelah keinginan itu dibuang, 4). jalan untuk membuang keinginan yang akhirnya akan menghentikan penderitaan adalah Delapan Jalan Kemuliaan. Kedua: Niat yang benar. Bebaskan pikiran dari nafsu, keinginan duniawi, ketidakjujuran dan kekejaman terhadap makhluk hidup. Ketiga: Perkataan yang benar. Jangan berkata bohong, memfitnah, kasar, dan beromong-kosong. Keempat: Perbuatan yang benar. Jauhkanlah perbuatan membunuh, mencuri, dan kejahatan seks. Kelima: Pekerjaan yang benar. Hindarilah pekerjaan-pekerjaan yang merugikan makhluk hidup. Misalnya menjual senjata, racun, atau minuman keras; menjadi penjagal, berburu, dan lain-lain. Keenam: Upaya yang benar. Jauhkan diri dari pikiran yang jahat, dan kuasailah pikiranmu. Ketujuh: Kewaspadaan yang benar. Perhatikan sungguh-sungguh setiap keadaan tubuh, pikiran, dan perasaan. Kedelapan: Konsentrasi yang benar. Berkonsentrasi pada satu benda untuk memunculkan keadaan-keadaan kesadaran khusus dalam meditasi yang dalam.

Bagi Ju, dengan mengamalkan delapan jalan kemuliaan sebagaimana yang diterangkan di atas, hidup setiap manusia akan lebih tentram, sehingga ia akan mampu melakukan pencapaian yang sejati dan hakiki dari hidupnya, sehingga akan terus menabur manfaat seluas-luasnya.

Selain menaati dan menjalankan ke delapan hal menuju kemuliaan Budha, para petani di Bangriang, Hatyai-Thailand, juga selalu mengasah spritualitas mereka di depan sebuah rumah (Roh Rumah) atau San Phra Phum (ศาลพระภูมิ), sebagai sebuah tempat suci untuk roh animisme yang dipercayai dalam tradisi beberapa negara-negara Asia Tenggara, seperti di Kamboja, Laos, dan Thailand sendiri.

Tujuan pembangunan Roh Rumah itu, dipercayai sebagai tempat penampungan yang menarik untuk arwah, atau makhluk-makhluk surgawi, yang jika tidak berada di langit, maka di bumi, mereka akan mencari tempat, seperti di pohon-pohon besar, atau di gua-gua, tebing, di air terjun atau lingkungan alam lainnya. Sehingga apabila manusia berniat untuk memulai sebuah usaha, entah bercocok tanam atau berdagang, dan roh tidak diberitahu serta tidak dengan hormat meminta izin padanya, menurut kepercayaan mereka, bahwa roh akan menyebabkan usaha yang sudah direncanakan itu gagal. Terutama dalam hal pembukaan lahan pertanian. Demikianlah Jupangju meyakini semua ini dan melakoninya[13].

Dengan sejumlah dogma ideologi di atas, Ju menjalani hari-harinya sebagai petani lebih hati-hati, tidak mengutamakan segala usahanya pada hasil pertanian yang ia kerjakan, tetapi lebih sebagai cara mengamalkan delapan jalan kebenaran menjadi Budha dan beberapa jalan lainnya sebagaimana yang dipaparkannya di atas. Dengan demikian ia akan memperlakukan alam dengan baik, mengambil hasil tidak semena-mena dan tidak berlebihan, sekaligus tidak akan merugikan orang lain, baik dengan berbohong mencuri, berzina dan cara-cara lainnya yang dapat merugikan kehidupan manusia.

Tidak hanya Islam dan Budha. Di dalam ajaran agama-agama lain pun juga banyak menyinggung budaya pertanian. Meskipun perbincangan ini sangat jarang hadir dalam khotbah-khotbah para penganjur agama, termasuk dalam ranah dialog antar agama sebagai sebuah upaya simbiosis mutualis dalam peningkatan kebudayaan pertanian sebagai bahasa simbolik kebudayaan, hubungan antar agama, minimal di Indonesia.

Dalam ajaran agama Nasrani misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa perayaan Natal bersumber dari tradisi Romawi pra-Kristen, sebagai peringatan bagi dewa pertanian Saturnus yang jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri (pertanian), atas dorongan dari kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama. Namun pandangan ini disanggah oleh Gereja Ritus Timur, karena Gereja Ritus Timur sudah merayakan kelahiran Yesus sejak abad ke-2, sebelum Gereja di Roma menyatakan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember[14].

Pendapat ini tentu dapat dijadikan sebagai sebuah acuan bahwa sesungguhnya budaya pertanian tidak jauh dari kehidupan umat Kristiani. Salah satu buktinya adalah Dewa Saturnus atau Dewa Pertanian dijadikan sebagai salah satu penanda diperingatinya natal, sebagaimana dorongan kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I di tahun 350. Kini karya di bidang pertanian dilakukan untuk memperlihatkan “semangat penebusan Kristus kepada alam semesta, tidak hanya manusia saja”. Ada dua lembaga Katolik yang terkait dengan bisnis pertanian organik. Serikat Paguyuban Tani dan Nelayan–Hari pangan Sedunia (SPTN-HPS) yang berlokasi di Tegalgendu, Kotagede, Yogyakarta dan Yayasan Bina Sarana Bhakti (YBSB) di Cisarua, Bogor. Kedua lembaga ini berdiri sejak tahun 1980-an. YBSB aktif berkarya di antara petani sayuran di Puncak untuk mengembangkan sayuran organik guna memasok kebutuhan pangan.

Keuskupan-Keuskupan agung, Tarekat, juga Paroki banyak mempunyai kebun dan unit peternakan. Tarekat SVD di Flores mempunyai Kebun kelapa seluas 200 hektar di Pinggir Pantai, di Jalan raya Maumere, Larantuka. Tarekat para rahib O.C.S.O di Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah mengelola kebun kopi robusta seluas 1500 hektar, peternakan babi dan sapi perah[15].

Umat Kristiani tidak hanya terbatas pada gerakan budidaya pertanian hingga peternakan sebagai bagian dari pendalaman spiritualisme keagamaan. Tetapi juga melakukan sejumlah ritual pertanian, dalam menyambut datangnya musim panen, atau yang lazim disebut di Indonesia dengan istilah pesta panen. Sebagaimana yang terjadi pada hari Minggu, 15 Mei 2011, ribuan orang tumpah ruah di sekitar Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Mojowarno, Jombang, menyaksikan gelaran riyaya unduh-unduh (Hari Raya Unduh-Unduh) untuk menyambut datangnya musim panen. Unduh-unduh adalah puncak dari rangkaian kegiatan pertanian masyarakat (Kristen) wilayah Kecamatan Mojowarno. Tradisi ini, seperti tahun-tahun sebelumnya dipusatkan di GKJW Mojowarno, yang merupakan salah satu gereja tertua di Jawa.

Tak hanya umat Kristen (Protestan) yang menyaksikan acara ini, banyak warga non-kristiani juga menyaksikan acara ini. Bahkan, sejak seminggu sebelum acara ini digelar, juga diadakan pameran atau bazar di lapangan sebelah bangunan gereja, yang pesertanya dari masyarakat umum, bahkan didomiasi dari para pelaku UMKM muslim yang ada di Jombang. Tentu ini sebuah “dialog ekonomi” dan “dialog sosial” yang baik di antara pemeluk agama yang berbeda. Dengan demikian, di sinilah kita dapat menyaksikan, bagaimana Agama memberi istrumen dan spiritualisme bagi para petani dalam menata kehidupan di bumi. Terbukti lewat bahasa simbolik budaya pertanian, mampu membangun sebuah ruang dialog antar agama dengan mesra antara agama yang satu dengan yang lainnya[16].

Sementara dalam tradisi Hindu, disebutkan bahwa seseorang ahli dalam bidang pertanian mendapat salah satu peran penting dalam masyarakat Hindu. Strukturnya, jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian, maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra[17].

Lebih jauh I Ketut Wiana (2009) menyatakan bahwa bertani, beternak dan berdagang adalah tiga basis membangun kesejahteraan ekonomi dalam kehidupan bersama di muka bumi ini. Mengkondisikan tiga basis ekonomi tersebut menjadi swadharma para Vaisya Varna sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawad Gita XVIII. 44. Pengembangan tiga basis ekonomi ini haruslah seimbang. Tidak boleh pengembangan industri perdagangan sampai merugikan eksistensi pertanian dan peternakan sebagai basis yang paling substansial dan suatu sistein ekonomi.

Dalam ajaran Hindu, tiga basis kesejahteraan ekonomi tersebut diajarkan dalam ilmu Athasastra. Catur Vidya adalah empat ilmu untuk membangun masyarakat sejahtera. Catur Vidya yang ketiga menurut Resi Kautilya adalah Waarttaa. Dalam bahasa Snsekerta kata Waarttaa ini artinya mata pencaharian atau pekerjaan. Istilah ini di samping terdapat dalam kitab Arthasastra dinyatakan juga dalam kitab Manawa Dharmasastra VII. 43. Demikianlah Hindu memandang pertanian.

Dalam Sloka Manawa Dharmasastra tersebut seorang pemimpin Negara (Raja) wajib mengupayakan Waarttaa (lapangan kerja) ini dengan baik sebagai syarat seorang pemimpin negara yang ideal. Waartta ini sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang khusus untuk mempelajari tentang cara mengembangkan lapangan kerja untuk masyarakat luas. Dalam Slokantara 37 ada dinyatakan bahwa seorang Vaisya harus mengembangkan mata pencaharian (Waarttaa) dengan tiga basis; Yaitu Krsi artinya pertanian, Goraksya artinya peternakan, Vanijyam artinya perdagangan. Hal  ini juga dinyatakan lebih jelas lagi di dalam kitab Bhagawad Gita XVIII. 44 bahwa ada tiga basis membangun kemakmuran sebagai Swadharma Vaisya Varna yaitu Krsi, Goraksya dan Vanijyam.

Dalam sumber lain Gde Puja, MA., S.H., mengartikan Waarttaa itu sebagai ilmu agraria. Memang ekonomi agraria itu adalah menyangkut tiga basis tersebut. Bagaimana pun majunya suatu ekonomi industri seharusnya kehidupan agraria tidak boleh dilupakan sebagai sumber yang memberikan lapangan kerja kepada masyarakat. Ekonomi agraria yang berbasiskan pertanian, perdagangan dan peternakan adalah nenek moyang semua sistem ekonomi. Negara harus melindungi tiga basis’ ini untuk memberikan lapangan kerja kepada masyarakat. Kalau negara mampu memciptakan gairah hidup bagi mereka yang berkecimpung dalam tiga basis ekonomi tersebut maka pembangunan kesejahteraan akan menjadi lebih kuat. Pertanian, peternakan dan perdagangan itu adalah sumber yang paling dasar dari hidup umat manusia. Betapa pun majunya suatu industri baik barang maupun jasa kalau tiga basis ekonomi tersebut terbengkalai maka daya tahan ekonomi itu tidak akan kuat.

Tiga basis kesejahteraan itu harus terus diupayakan oleh semua pihak agar masyarakat selalu bergairah untuk bekerja di tiga basis tersebut. Jangan dibiarkan tiga basis ekonomi tersebut menjadi turun gengsinya sebagai pencipta lapangan kerja.

Demikian juga tiga basis itu haruslah dibuat sedemikian rupa supaya dia bersinergi memberikan masyarakat lapangan kerja, memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan juga memelihara lingkungan alam dan lingkungan budaya. Jangan karena industri demikian maju sehingga pendapatan masyarakat sangat baik karena industri tersebut. Daya beli masyarakat sangat kuat.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan maka sebagian terbesar kebutuhan itu diimpor. Akibatnya di lingkungan masyarakat tersebut lahan pertanian dan peternakan pun ditinggalkan masyarakatnya. Banyak lahan tidur. Akibatnya lingkungan alam pun menjadi rusak. Daya resapan tanah pada air menjadi sangat kurang. Ruang hijau menjadi langka. Polusi udara pun menjadi semakin padat dan luas. Sikap hidup masyarakat dan sikap hidup produktif menjadi sikap hidup konsumtif menjadi makin berkembang. Jenis tanaman dan hewan khas sebagai unggulan di suatu daerah pun bisa lenyap tanpa pernah dikenali lagi anak cucu kita.

Kalau dalam bidang produksi pertanian dan peternakan suatu masyarakat terlalu tergantung pada produksi daerah lain maka apa yang disebut kemandirian akan makin jauh. Kalau ada suatu masalah di daerah pensuplai maka kehidupan ekonomi pun menjadi kacau. Pertanian, peternakan dan perdagangan itu harus diciptakan saling menguntungkan. Misalnya petani mengolah sawah/ladangnya dengan menggunakan ternak sapi atau kerbau sebagai penarik bajak. Ternak tersebut tidak membutuhkan bahan bakar minyak.

Makanan ternak seperti rumput-rumputan dan daun-daunan dapat diproduksi sendiri di sawah dan ladang sendiri. Kotoran ternak itu pun menjadi rabuk tanaman di sawah dan ladang sendiri. Hasil sawah ladang dan ternak dijual di pasar desa atau kota yang tidak jauh dari tempat domisili sendiri. Dengan demikian, ini sudah saling bersinergi antara pertanian, peternakan dan perdagangan. Hal ini tentunya kita bicara dalam konteks kehidupan agraris untuk membangun kesejahteraan di tingkat dasar.

Masalahnya akan menjadi lain kalau sudah bicara pertanian, peternakan dan pedagangan dalam konteks industri. Apa lagi industri pertanian, peternakan dan perdagangan dengan orientasi ekspor. Pengembangan kehidupan industri tersebut tentunya sangat baik untuk dikembangkan, namun jangan mengabaikan kehidupan agraris yang paling dasar. Justeru pengembangan ekonomi industri itu akan baik apabila tidak merusak sistem ekonomi agraris. Ekonomi industri agraris harus dibuat saling bersinergi tidak dibuat dikotomi seperti umumnya yang sering terjadi di era pembangunan ekonomi dewasa ini[18].

Begitulah agama-agama ikut menyokong dan mengokohkan spiritualisme dunia pertanian atau para petani sebagai pelaku utamanya. Setidaknya bahwa agama tidak hanya memberi spirit dalam konteks universal pertanian, tetapi jauh menukik ke dalam kalbu manusia, memberi penyadaran bahwa profesi sebagai petani sesungguhnya sangatlah mulianya dan memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini.

Sebagaimana Prayitno dan Sukmono, dua orang petani muda dari Sawangan dan Pabelan-Magelang[19]. Parayitno, usianya masih sangat muda. Ia dilahirkan di Sawangan-Muntilan tahun 1985. Umurnya berarti 26 tahun. Yitno panggilan akrabnya. Lahir dari keluarga petani ulung. Bapaknya petani sayuran, ibunya juga demikian, di samping menjadi ibu rumah tangga. “Saya ingin bermanfaat seluas-luasnya pada kehidupan manusia, mas. Caranya tentu macam-macam. Salah satunya dengan bertani. Semoga dengan bertani ini sayu dapat menemukan kemuliaan. Dengan bertani, pekerjaan yang kita lakukan membuahkan hasil, dan menjadi makanan pokok dan utama bagi manusia” katanya di selah obrolan kami di warung kopi pinggir jalan menuju Merapi yang terputus beberapa bagian akibat terjangan lahar dingin pasca erupsi Merapi tahun lalu.

                Sejak kecil kegiatan utamanya, membantu orang tua di ladang. Bagi Yitno, kampung Sawangan adalah tanah tumpah darah yang subur. Kaya akan hasil alamnya. Tanahnya sangat subur. Di kampung inilah ia menggantungkan cita-cita masa depannya sebagai petani. Ia bersama teman-teman sebayanya, sedari kecil sudah menyadari bahwa kampung halaman mereka menyimpan kekayaan alam yang melimpah jika dikelolah dan dikerjakan dengan baik, tekun dan sabar.

Selain Prayitno ada pula Sukmono. Ia juga memilih menjadikan petani sebagai cita-cita hidupnya sebagai upaya memajukan kampung halaman sendiri. Prinsipnya cukup sederhana. Menjadi petani itu mulia. Apapun yang kita kerjakan menjadi bahan pokok kebutuhan manusia. Dimakan banyak orang. Ini berarti kita menghidupi manusia. Menghidupi manusia berarti kita telah ikut memberikan kesejahteraan bagi bumi untuk mencapai ketentaraman hati dan jiwa selalu. Meskipun kesan petani di benak sebagian besar kawan-kawan pemuda se-desanya; petani itu bukan kerjaan yang bergengsi, ndeso, kotor, tidak bisa mendapatkan uang secara langsung, melainkan harus bersabar berbulan-bulan, baru panen, lalu bisa mendapatkan uang. Meskipun demikian, ia tetap bertekat mewujudkan cita-citanya meneruskan mengerjakan dan mengolah kesuburan tanah milik nenek moyangnya, yang telah diwariskan hingga sampai pada dirinya selama beratus tahun lamanya.

Sejak kecil Kusmono sudah akrab dengan sawah dan ladang. Bapak-ibunya yang juga berprofesi sebagai petani telah mengajarkan itu selama berpuluh tahun. Bahkan sejak simbah kakung dan simbah putrinya masih hidup. Dengan demikian Kusmono sangat bersyukur atas karunia alam desanya yang diberikan oleh Tuhan sedemikian kaya dan subur, meski tentu butuh kesabaran dan perjuangann dalam mewujudkan segala kesuksesannya di bidang petanian.

Dengan demikian, kita tentu dapat berharap, semoga semangat Prayitno dan Kusmono, sebagai pemuda sukses di desanya masing-masing dan tetap setia dengan cita-citanya sebagai petani,  diikuti oleh banyak pemuda di negeri ini. Cukup penting menjadi catatan, sebagaimana yang dikatakan Kusmono, bahwa profesi sebagai petani bukanlah pekerjaan rendahan. Petani adalah pekerjaan bergengsi jika terkelola dengan baik. Apalagi pekerjaan petani berhubungan langsung dengan makanan yang dikonsumsi manusia. Belajar menghayati kehusyukan alam semesta, membalik tanah, menanaminya dengan bermacam tanaman, dan akan memberi hasil serta bermanfaat bagi kehidupan manusia. Betapa mengagumkan. Betapa mulianya menjadi petani. Dengan demikian petani telah menjadi salah satu pilar penyokong kemakmuran dan kesejahteraan dunia. Semoga. Amin !

 Daftar Pustaka dan Bacaan

  1. Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia (RI), Tahun IV/1982/1983.
  2. Laporan Tim Penelitian Lapangan 2008, Rumah Tangga Petani di Tengah Arus Pasar Dunia (Studi Kasus di Desa Tlogopakis, Kec. Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah). Antropologi Budaya, Fakultas ilmu Budaya (FIB), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2009.
  3. Smith, Huston, Agama-agama Manusia, Hal. 254, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1999.
  4. Salim, Handayani, Muhktarul Hadits, PT. Almaarif, 1983, Bandung.
  5. Majalah Sidatani, Edisi Perdana II, Rubrik Nusantara, Desember 2009.
  6. Draft buku ‘Kampung Halaman Indonesia’, Komunitas Gubuk Indonesia (KGI) Yogyakarta dan Annora Media Publishing, Des. 2011
  7. Geertz, Clifford, Involusi Pertanian (Proses Perubahan Ekologi di Indonesia),  Terjemahan:  S. Soepomo, Pengantar : Sajogjo, Bhratara, Jakarta, 1983.
  8. Bisnis-Bali, Senin, 27 April 2009, dalam, http://www.parisada.org
  9. www.republikaonline.com
  10. Kompas Cyber Media.com
  11. http://id.wikipedia.org

[1] Penulis adalah antropolog, peneliti sosial-budaya dan agama, menulis puisi dan cerpen, kini sebagai Pendamping Komunitas Gubuk Indonesia (KGI) serta beberapa komunitas lain di Yogyakarta dan Sulawesi Barat. Bekerja sebagai pengajar di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) dan Pondok Mahasiswa Hasyim Asyarie, editor dan peneliti di Annora Media Group dan Look Out Picture (Filmmakers).

[2] Ibadah yang dilakukan dan berhubungan langsung dengan Tuhan yang maha esa.

[3] Ahmad Arif, Involusi Petani, Friday, February 15, 2008, diunduh 12 Des. 2011, Kompas Cyber Media.com.

[4] Wawancara penulis dengan Zamroni, salah satu aktifis pertanian di Klaten, 18 Nov 2011, dalam sebuah riset pertanian kerjasama dengan Annora Media Publiser.

[5] Salah satu hasil riset penulis di thn. 2008, saat melakukan penelitian tentang ‘Rumah Tangga Petani di Tengah Arus Global’, Team Riset Antropologi UGM, PL. Dr. Pujo Semedi, MA.

[6] Achmad Fedyani Saifuddin, Staf Pengajar Departemen Antropologi, FISIP-UII, diunduh pada 09 Des 2011,  23.35, Kompas Cyber Media.com.

[7] Diadaftasi dari Huston Smith, Agama-agama Manusia, Hal. 254, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1999.

[8] Al-Majmuk: 9-54 & Shahih Muslim Syarh Imam An-Nawawi.

[9] www.republikaonline.com, ‘Pertanian Islam’ diunduh 15 Juli 2008, Pkl. 23.15 GMT.

[10] Dari beberapa penggalan tulisan KH. Didin Hafiduddin di http://www.republikaonline.com.

[11] HR. Imam Muslim dan Imam Bukhari.

[12] Riset singkat ini hanya berlangsung dua minggu di akhir Desember Thn. 2009, yang meneliti tentang ‘Budaya Pertanian Tradisional di Thailand Selatan’, sponsor, majalah Sidatani, binaan PT. Sido Muncul Indonesia.

[13] Sebahagian besar diadaftasi dari majalah Sidatani, Edisi Perdana II, rubrik Nusantara (Laporan Bustan Basir Maras) 2009.

[14] http://id.wikipedia.org/wiki/natal, diunduh pada 9 Des. 2011, 20:24:54 GMT.

[15] http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_gereja, diunduh 15 Des. 2011 07:46:46 GMT.

[17] http://id.wikipedia.org/wiki/Warna_(Hindu), diunduh pada 11 Des 2011 07:18:05 GMT.

[18] I Ketut Wiana, ‘Tiga Basis Membangun Kesejahteraan’, Bisnis-Bali, Senin, 27 April 2009, dalam, http://www.parisada.org, diunduh pada Nov. 2011 14:53:22 GMT.

[19] Hasil riset penulis, dalam rangka penulisan buku kampung halaman Komunitas Gubuk Indonesia (KGI) Yogyakarta dan Annora Media Publishing, Des. 2011

 

Biografi Lengkap*

Bustan Basir Maras menulis di berbagai media, lokal maupun nasional: koran, jurnal, majalah, buku, hingga media-media online, menyebabkan ia telah berjalan ke berbagai pelosok Indonesia, berbagai daerah, bahkan ke beberapa negara tetangga. Lahir di Mekkatta, Majene, pelosok Sulawesi Barat (Sulbar). Sebelum pindah ke Yogyakarta, pendidikan SD hingga SLTP  ia selesaikan di kampung halamannya. Sedangkan SLTA diselesaikannya Baruga-Majene, Sulbar. Sepanjang masa studi itu, ia banyak aktif di berbagai komunitas sastra budaya, teater, gema pelajar, sahabat pena di Mimbar Karya Sulawesi Selatan (Sebelum Sulbar).

Tahun 1998 memilih tinggal di Yogyakarta dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Menempuh pendidikan formal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Oxford Course (satu tahun-Binaan Oxford University), juga aktif di Sanggar Studi Sastra dan Teater Sila (SSST Sila), Sanggar Suwung, Teater Kanvas, kepala devisi sastra Teater ESKA, di samping sebagai Jurnalis Majalah Arena dan Tabloid Madani, sekaligus sebagai Dewan Pertimbangan Forum Pers Mahasiswa Yogyakarta (FORESMAYO) 2001-2002.

Konsistensinya dalam berbagai aktifitas sastra budaya membuatnya berhasil meraih sejumlah prestasi sejak masih duduk di bangku SLTA. Tahun 1997, meraih juara satu pada lomba penulisan naskah Pola Hidup dan Kebudayaan Kaum Miskin Perkotaan tingkat Kabupaten Majene, lalu  juara dua tingkat Propinsi Sulawesi Selatan. Pertengahan tahun 2002 terpilih sebagai salah satu nominator lomba penulisan karya sastra, puisi, (selekda BSMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan pada tahun yang sama (2002), kembali juara dua dalam lomba penulisan karya sastra (puisi), pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) ke VI (enam). Bukunya Mata Air Mata Darah (kumpulan puisi) mendapat penghargaan dari Rektor UIN Sunan Kalijaga dan menerima penghargaan dua kali berturut-turut dari almamaternya sebagai mahasiswa produktif menulis di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media massa: Bernas Jogja, Minggu Pagi, Wawasan, Republika, Info Indonesia, SKH. Mimbar Karya Sul-Sel, Kompas, Harian Fajar Makassar, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka Semarang, Aktual, Koran Sindo, Suara Pembaharuan, Majalah Arena, Majalah Sukma Banjarmasin, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Koran Mandar, Kuntum, Serapo Kaltim, Radar Sulbar, Koran Singapur-Johor-Riau (SIJORI) Batam, Suara Muhammadiyah, Jurnal Ibda’, Jurnal Pohon, media-media online: titikkoma,com, Melayu Online, Mandar News.com, Kompas Online, Panyingkul.com, annoramedia.com, Suaramandar.com,  dan lain-lain.

Selain menulis, juga kerap diundang mengisi seminar sastra, work shop teater, diklat jurnalistik, baca puisi, penulisan dan penjurian lomba karya sastra. Pada pertengahan Juli tahun 2010 merampungkan studinya pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Program Pascasarjana, Jurusan Antropologi, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta: beasiswa Ford Foundation kerjasama dengan dikti. Ia juga mengurus beberapa lembaga sosial-budaya, ngurusi GOeBOeK Indonesia-Annora Media Group (Cultural Research Community, Publisher and Book Distributor), membina beberapa komunitas di Yogyakarta dan di Mandar-Sulbar yang seringkali memaksanya harus tinggal di dua tempat ini secara bergiliran. Di dua tempat inilah ia mendirikan sejumlah komunitas sastra-budaya, seperti Komunitas Rumah Kita, Teater Pasak, Masyarakat Paqbandangang-Peppio, Komunitas Rumah Mandar, Komunitas Gubuk Indonesia dan lain-lain. Juga terlibat dalam sejumlah pementasan teater; Penggali Kapur-Kirdjo Mulyo (Pentas Teater Eska), Pentas Lautan Jilbab-Karya Emha Ainun Nadjib, Ziarah Abadi-M. Iqbal (Tadarrus Puisi Teater Eska), Ziarah Tanah Mandar (Musik Puisi Komunitas Rumah Mandar-Jogja) Pembacaan dan Musikalisasi Puisi (Kolaborasi Sanggar Suwung dan SSST Sila) malam Khairil Anwar dan HB. Jassin di Societet Militer Yogyakarta, Tour Pementasan bersama KRM, diundang dalam Tongue In Your Ear (Festival Puisi 30 Penyair Nasional Indonesia, 2007), menghadiri Kongres Cerpen ke V di Banjarmasin, Temu Sastrawan Indonesia II di Bangka Belitung dan di akhir tahun 2009 diundang membacakan puisinya di Menara Kuala Lumpur-Malaysia pada Pesta Penyair beberapa negara ASEAN, Tour Sastra di Batam dan Singapura, mengunjungi Songkla University dan melakukan riset singkat di Bangriang, Tanhamhom, Songhkla-Thailand, Road Show-Ziarah Mandar Pulau Jawa dan Sulawesi, menulis naskah dan penata pertunjukan pentas kolaborasi  ‘Antara Jawa dan Mandar in Collaboration’ kerja bareng tiga komunitas di Yogyakarta dan satu didatangkan dari Sulawesi Barat.

Bekerja sebagai cultural researcher dan chief editor  GOeBOeK Indonesia-Annora Media Group, Yogyakarta serta pengajar tamu salah satu universitas di Yogyakarta. Bersama istri dan seorang putri kecilnya tinggal di kota kelahiran istrinya: Suryowijayan MJ. I Yogyakarta. ‘Nongkrongnya’ di Teater Eska, di GOeBOeK Indonesia (Annora Media Group), di Taman Budaya Yogyakarta, di Komunitas Rumah Mandar, di Kandang Antropologi UGM dan lain-lain. Jika sedang di Mandar-Sulbar, tinggal di Mekkatta-Malunda dan menghabiskan waktunya di sejumlah komunitas di Sulbar, ikut mendorong percepatan kemajuan perkembangam sastra budaya di propinsi termuda Indonesia itu. Lelaki yang telah dua belas tahun malang melintang di jagad sastra-budaya Yogyakarta ini, biasanya dapat dikontak melalui email/facebook: bustannora@yahoo.co.id.

Hingga saat ini bukunya yang sudah terbit, antara lain:

  1. 1.        Negeri Bersyair (Kumpulan Puisi Dua Penyair), SSST Sila, Thn. 2000.
  2. 2.      Mata Air Mata Darah (Kumpulan Puisi Tunggal), Buku Laila, Thn. 2004.
  3. 3.      Damarcinna (Kumpulan Cerpen Populer) karya tunggal, Fajar Pustaka, Thn. 2005.
  4. 4.      Negeri Anak Mandar (Kumpulan Puisi Tunggal), Annora Media, Thn. 2006.
  5. 5.      Ziarah Tanah Mandar (Tahun 2010 terbit dengan Special Edition: Ziarah Mandar), GOeBOeK Indonesia, Thn. 2006 dan 2010 (Special Edition).
  6. 6.      Tongue In Your Ear (Kumpulan Puisi Festival 30 Penyair Nasional Indonesia), FKY, Thn. 2007.
  7. 7.       Carita (Cerita Rakyat Sulbar/Tunggal), Annora Media, Thn. 2007.
  8. 8.      Paqbandangang-Peppio (Upacara dan Rajutan Sebuah Eksotisme Kabudayaan dari Kajuangin, Sulawesi Barat), GOeBOeK Indonesia, Thn. 2008.
  9. 9.      Pedas Lada Pasir Kuarsa (Antologi Puisi TSI II di Bangka Belitung), Disbudpar Babel, Thn. 2009.
  10. 10.   Rumpun Kita (Pesta Penyair Beberapa Negara ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia), PENA, 2009.
  11. 11.     Orang-orang Malioboro (Bersama Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Nadjib dkk.), Balai Bahasa Pusat, Jakarta, Thn. 2010.
  12. 12.    Percakapan Lingua Pranca (Antologi Puisi TSI III di Tanjung Pinang), Disbudpar Tanjung Pinang, Thn. 2010.
  13. 13.    Pilar Penyair  (Penyair tamu), STAIN Pres-Purwokerto, 2010.
  14. 14.    Akulah Musi  (Antologi Puisi, Pertemuan Penyair Nusantara-Asia Pasifik/PPN V) di Palembang Sumatra Selatan, DKSS, Disbudpar Sumsel, Thn. 2011.
  15. 15.    Equator  (Antologi Puisi Tiga Bahasa (Indonesia, Inggris, Jerman, 108 penyair Indonesia), Yayasan Cempaka Kencana Indonesia, Thn. 2011.
  16. 16.   Suluk Mataram (Kumpulan puisi 50 Penyair Yogya) PSM & Galang Pres, 2011.
  17. 17.    Membaca Puisi Mendengar Nurani (Sastra Bulan Purnama 4), Tembi Rumah Budaya, 2011.

 

 

*Diadaftasi dari buku kumpulan puisi ‘Negeri Anak Mandar’ karya Bustan Basir Maras, penerbit GOeBOeK INDONESIA, Yogyakarta, 2010.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: